January 2020 - Lagi Monolog

Sunday, January 26, 2020

Mencari Cuan Lewat Internet

12:11 PM 0
Mencari Cuan Lewat Internet
Siapa yang udah lulus tapi masih nganggur, angkat tangan?

Siapa yang udah kerja, tapi pengen nambah sumber pendapatan?

Ngomongin duit emang nggak akan ada habisnya. Walaupun kata orang bijak, “Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.” Setuju nggak? Kalau gue sih nggak setuju. Menurut gue rejeki itu nggak cuman dalam bentuk uang. Macem-macem. Ada hal yang memang membutuhkan uang, ada yang enggak. Contohnya ketika Ibu kalian sakit, mungkin beliau butuh uang untuk berobat. Tapi bisa jadi yang beliau butuhkan hanya kehadiran kalian aja di sisi beliau, nemenin, nyuapin.

Oke, baik.
Sebelum gue dihujat karena topik keuangan ini biasanya cukup sensitif, gue akan luruskan.

Tujuan orang nyari uang tuh macem-macem. Ada yang karena kebutuhan (seorang ayah yang jadi tulang punggung keluarga, misalnya), mau beli barang baru, menyambung hidup, atau terpacu karena banyak manusia yang menilai status sosial seseorang dari isi dompetnya—atau jumlah kartunya. Dan cara untuk dapat duit adalah dengan kerja, dapet gaji. Menurut gue ini bukan jalan satu-satunya, masih ada investasi saham, ngepet misalnya (canda, deng). Tapi karena masih banyak yang menganggap kalau pengen dapat duit ya cari kerja, dapet gaji begitu, ya kita anggap aja ini jalannya. Nggak ada yang salah. Kan kita sama-sama nggak put ourselves on others shoes. Jadi ya sah-sah aja.

Gue mau cerita sedikit—banyak juga terserah kan ini blog gue....loh kok galak?

Jadi gini. Dari gue kecil, gue merasa sangat cukup. Pertama, gue bisa mendapatkan kebutuhan tanpa merasa kurang (karena gue orangnya cukup neriman, nggak suka minta ini itu). Kedua, gue nggak dihadapkan sama tuntutan keluarga yang mengharuskan gue jadi tulang punggung (menanggung segala macam kebutuhan karena suatu hal). Tapi gue cukup tau diri kalau memang merasa harus membantu, ya membantu. Berkontribusi. Keluarga gue juga bukan yang sandwich generation gitu. Kedua hal itu sangat cukup untuk gue bisa explore banyak hal yang gue suka, belajar ini itu, main kesana-kemari, dan bersosialisasi dengan banyak manusia. Walaupun ada skenario semesta yang memupuskan harapan-harapan, misalnya dulu kami sekeluarga pernah ngekos, gagal sekolah di tempat impian karena terbentur dana, dll tapi pengganti dari harapan-harapan itu selalu ada. Terima kasih, Ya Allah.

Kembali ke masalah cari kerja yang sebelumnya sempet kita bahas. Sampai hari ini, terhitung dari 4 bulan lalu gue wisuda, gue belum diterima di perusahaan apapun—ya emang gue nggak ngelamar segitu banyak perusahaan juga sih. Alasannya lebih ke panggilan hati dan mungkin karena gue juga terlalu percaya sama diri sendiri bahwa idealisme harus dijaga sebelum putar haluan terbentur realita. Kapan-kapan gue pengen cerita, tapi nggak sekarang. Intinya empat bulan gue jadi ”pengangguran”. Ngerjain kerjaan serabutan yang cukup banyak membuat tetangga dan saudara serta orang-orang iseng lain nanyain:

“Nanda, udah kerja?”

“Nanda lagi libur?”

“Kok Nanda di rumah terus?”

“Kok gak keluar? Gak kerja?”

Kalau dipikir-pikir iya juga ya...
"Anak-anak" yang masih gue rintis belum juga kelihatan batang hidungnya. Kalau ngelihat dari pengalaman orang lain sih paling nggak butuh waktu 2-3 tahun buat mereka bisa stabil. Akhirnya kalimat terakhir yang selalu jadi pembelaan ke diri sendiri adalah "Ya elah, baru juga 4 bulan..."

Lalu gue nemu ilustrasi ini dari instagram Mba April (@heyapriliaa)

 
Source: Instagram @heyapriliaa

Kenapa ya orang-orang kanan dan kiri pada ribut? Orang gue yang diomongin merasa sejahtera dan cukup-cukup aja tuh. Masih merasa cukup dan tercukupi. Kalau alasan mereka peduli adalah khawatir sama masa depan finansial gue, alhamdulillah gue masih bisa ngasih uang saku ke adek buat liburannya, nge-transfer Mama iseng-iseng, jajan sana-sini sama Satrio, ngalor-ngidul belanja online buat nyari skincare yang cocok, nabung dan investasi, beli buku, upgrade devices baru—walaupun tujuannya buat produktivitas juga, traktir temen, bayar internet di rumah, ngerombak ruangan di rumah jadi kantor pribadi, investasi buat bisnis, dan tentunya kebutuhan pokok gue sendiri. Pertanyaan yang muncul mungkin adalah loh katanya nganggur, duit darimana?

Seperti gambar di atas, selain gaji dari Percacita--bisnis sosial yang dirintis bareng sama Mas Satrio, musuh sekaligus sahabat yang super ngeselin--gue juga nambah pendapatan dari berbagai macam sumber.

INSTAGRAM

Source: Instagram @tanganajaib

Siapa sih yang nggak punya Instagram? Platform yang sering kalian pakai untuk stalking seseorang itu bisa jadi sumber cuan lho. Selebgram, contohnya. Mereka mendapatkan cuan dari endorsement yang mereka pasang di Instagram. Kalau gue sendiri, gue pakai platform ini untuk kasih lihat hasil ilustrasi dan karya lainnya yang gue jual. Semacam portofolio gitu lah. Apalagi sekarang instagram kan punya fitur instagram business yang membantu kalian yang mau bikin portofolio bisnis / media di instagram. Walaupun followers di halaman gue masih segitu-gitu aja (yang notabene gue nggak melakukan upaya marketing massive), tapi alhamdulillah penjualan yang masuk dari ilustrasi bisa cukup buat gue menyambung mimpi (?)

MOSELO

Moselo.com

Moselo adalah marketplace creative service di Indonesia. Kayak semacam Etsy atau Creative Market gitu lah. Barang-barang yang gue jual di Instagram juga gue pasarkan di Moselo. Bedanya, disini gue juga jualan jasa desain grafis kayak desain feeds instagram, desain logo, template instagram, sticker, gif instagram, dll. Mungkin karena pasarnya niche, baru sehari gue upload service desain feeds instagram, ada sebuah agensi besar di Jakarta yang ngontak gue untuk kolaborasi. Mereka minta gue untuk desain-in pesenan klien-klien mereka untuk servis social media marketing dalam paket mereka. Lagi-lagi dari contoh ini aja gue sadar kalau rejeki itu memang sudah diatur, tugas kita cuman nyari.

ADSENSE

Google Adsense

Betul. Kalau kalian nyadar, gue baru aja pasang iklan di blog ini (kalau kalian baca dari hp keliatan gak sih iklannya?). Bisa ditebak kan ya? Google Adsense adalah sumber cuan lainnya. Disana kalian akan dibayar per bulan. Syaratnya cuman bikin konten yang bagus, gitu aja. Atau kalian bisa aja nge-review produk di blog dan dibayar dari tulisan kalian itu. Ikut program afiliasi (tapi yang ini gue belum pernah sih). Kirim-kirim artikel ke website yang menerima tulisan freelancer juga bisa jadi alternatif sumber cuan, lho!

Sebenernya masih banyak platform lain yang gue gunakan untuk menjemput rezeki. Contohnya fiverrr, sribulancer, wattpad premium dll. Cuman gue masih anak baru disana, jadi belum bisa cerita macem-macem.

Sekarang, gue akan bawa gambar ilustrasi di atas ke sini lagi. 

 
Source: Instagram @heyapriliaa

 “Jutaan orang bahkan tidak menyadari bahwa kita bisa menghasilkan $1000 sehari tanpa keluar rumah.” Tentu saja, syarat dan ketentuan berlaku. Apa aja?

  • 1.       Kerja keras
  • 2.       Sabar
  • 3.       Terus berlatih dan berkarya

Gue paham rasanya di judge dari gaji, pekerjaan, atau bahkan yang masih belum kerja bakalan di judge karena di rumah mulu. Tapi jangan pernah berkecil hati kawan. Banyak cara halal buat nyari rejeki. Dicari lagi, apa yang paling bisa kalian lakukan? Dari sana coba keluar, berselancar, cari cara gimana caranya value yang kalian miliki bisa nggak cuman menghasilkan uang aja, tapi juga bisa bermanfaat buat orang lain.

Beberapa bulan lalu gue ketemu sama seorang profesor dari Swinburne University. Beliau cerita kalau anak muda disana kalau di atas 17 tahun merasa harus keluar rumah dan mengelana cari pengalaman sana-sini. Berbisnis, bekerja dengan orang lain, part time, dll. Apapun kerjaannya dijabanin. Karena mereka pengen belajar buat hidup. Bukan soal uangnya, tapi mereka sadar kalau udah gede harus bisa lebih bermanfaat, harus lebih banyak belajar.

Mungkin postingan ini nggak sesuai harapan. Gue bukan yang paling makmur, yang paling sejahtera hidupnya, tapi gue cuman ingin membagikan bahwa ada banyak jalan di luar sana yang bisa kalian coba. Semoga postingan ini bisa membuka mata dan sedikit membantu kebimbangan kawan-kawan yang sering dibandingkan dengan mereka yang lebih dahulu mengejar impian. Kalau kalian termasuk yang masih di rumah, atau sekadar ingin cari penghasilan tambahan, ada banyak opsi. Tugas kita tinggal berhenti sibuk mempertanyakan rejeki, tapi keluar dan cari. Berhenti goleran dan menyayangkan keadaan yang seolah nggak berpihak, melainkan bangkit dan kejar. 


Ps: Eittt tapi di postingan ini belum ada pembahasan lebih jauh tentang gimana mengelola platform tersebut biar bisa dapat klien yang terus berdatangan ya? Kalau ada yang penasaran dan bertanya-tanya, ntar pan-kapan gue bikin postingannya, hehe (sok-sokan ngerti).

Thursday, January 16, 2020

Monday, January 13, 2020

Proses Seleksi Magang di Kedutaan Besar Amerika Serikat (#FNSIP Part 3)

11:55 AM 0
Proses Seleksi Magang di Kedutaan Besar Amerika Serikat (#FNSIP Part 3)
Baru-baru ini gue menganalisis statistik visitors blog ini. Rupanya popular post di blog ini rekor tertingginya masih dipegang oleh postingan tentang magang di Kedutaan Besar Amerika Serikat. Sehingga gue jadi berani berasumsi kalau topik ini adalah yang banyak kalian butuhkan. Jadi di kesempatan kali ini juga gue ingin berbagi tentang alur atau proses seleksi magang di Kedutaan Besar Amerika Serikat, topik yang belum pernah gue bahas sebelumnya. Waktu gue daftar program ini dulu, nggak ada banyak resource yang menceritakan pengalaman dan serba-serbi tentang program ini. Oleh karena itu, gue harap informasi ini bisa membawa manfaat buat kalian.


Source: Google


Foreign National Students Internship Program (FNSIP) adalah program magang tahunan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat. Biasanya kegiatan magang disini akan dimulai di bulan Juni. Program magang di Kedutaan AS ini adalah unpaid program, jadi tidak ada salary atau kompensasi. Lama waktu magangnya pun beragam, kalian tinggal sesuaikan saja sama kepentingan dan keperluan masing-masing. Ada yang 3 bulan, 6 bulan, dan 1 tahun. Lebih lengkapnya, silahkan kunjungi website resmi mereka disini.

Di Indonesia, program ini membuka posisi untuk kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan Kantor Konsulat Jendral Amerika Serikat di Surabaya. Posisinya pun beragam.

Untuk Jakarta:
  • Information System Center
  • Foreign Commercial Service --------à ini tempat gue magang
  • Public Affairs/Information Office
  • Public Affairs/Cultural
  • Economic Section
  • Office of Defense
  • Customer Service
  • General Service Office/Property, Accounting and Warehouse (GSO/PAW)
  • USAID/Geographic Information System
  • USAID/Monitoring and Evaluation
  • USAID/Health
Untuk Surabaya:
  • Management Office
  • Political/Economic
Untuk tugas masing-masing agency-nya kalian tinggal baca di website pendaftarannya.

Nah, untuk mendaftar program ini, tentunya kalian perlu mempersiapkan berkas-berkas aplikasi. Tenang, proses aplikasi berkas ini lewat online jadi kalian nggak perlu susah-susah print dan kirim dokumennya ke kantor mereka. Selain itu hal yang paling asik menurut gue adalah kita nggak perlu bikin-bikin proposal magang seperti program magang kebanyakan. Untuk berkas apa aja yang dibutuhkan juga semuanya terangkum dengan jelas di website yang gue share di atas. Kita breakdown satu per satu ya!

  1. U.S. Embassy application for FNSIP -> tertera di website
  2. Statement of Interest -> tertera di website
  3. Gratuitous Service Agreement -> tertera di website
  4. Official transcript illustrating good academic standing
Minimal syarat IPK agar bisa mendaftar di program ini adalah 2,75. Jadi pastikan nilai IPK kalian melebihi batas ya. Transcript gue saat itu original gue scan dari kampus. Nggak di-translate ke Bahasa Inggris dulu. And it’s acceptable.
  1. Letter of permission from the educational institution to accept internship with U.S. Embassy Jakarta
Untuk surat ini kalian coba minta ke fakultas masing-masing ya. Tanya soal surat izin magang atau cek di website fakultas kalian. Biasanya ada.
  1. Confirmation letter regarding personal medical insurance
Nah, soal personal medical insurance ini dulu gue sempet bingung karena gue sama sekali nggak pakai asuransi kesehatan apapun. Tapi gue inget gue pakai BPJS dan gue scan kartu BPJS serta bikin surat keterangan kalau gue adalah pengguna BPJS.

Semua file tersebut diurutkan dan di-compile menjadi 1 file PDF kemudian diupload via JobsDB. Ada kok linknya di website yang gue kasih di atas, hehe.

Kemudian, pihak HRD akan me-review berkas pendaftaran kita. Lantas mengirimkannya ke official terkait untuk diseleksi sesuai dengan kebutuhan mereka. Kalau kesaring, kalian akan dihubungi melalui email. Dan melakukan interview dengan calon supervisor kalian. Wawancara dilakukan dengan berbahasa inggris karena both Indonesians and Americans will interview you. Tips wawancara udah gue tulis lengkap disini.

Invitation for Interview


Setelah itu kalian tinggal menunggu pengumuman apakah kalian lolos ke tahap selanjutnya. Karena begitu office yang kalian tuju membuat keputusan, masih ada beberapa proses yang harus dilalui sampai kalian officialy accepted. Nah, kalau lolos interview, kalian akan diberi conditional offer dan melakukan medical check up di klinik kesehatan yang ditunjuk oleh pihak kedutaan. Tenang aja, biaya check up-nya gratissss! Karena gue daftar untuk kantor Jakarta, gue dapet klinik di Jakarta. Dan kalau gak salah saat itu gue menunda check up sampai ujian gue kelar. Untungnya Ibu HRD mengizinkan. Maklum, posisi gue jauh kalau ke Jakarta.

Nggak cuman medical check up, kalian juga diminta untuk memenuhi berkas-berkas tambahan ke Regional Security Office (RSO). Ada dua form lain yang mereka berikan bersamaan dengan conditional offer; yakni RSO Background Investigation Form yang berisi informasi data pribadi seperti identitas diri, travel experience, organization involvement, dll; dan dokumen lain yang berisi data saudara kandung, saudara dekat seperti paman/bibi, dll. Terlampir juga daftar berkas-berkas tambahan untuk security check yakni FC akta kelahiran, SIM, SKCK, dll. Setelah mengirim berkas tadi ke RSO, kalian akan mendapatkan jadwal interview dengan kantor RSO. Mereka cuman mau mengonfirmasi data-data yang kamu kirimkan kok. Nah, gue kan apply untuk posisi di Jakarta. Tapi gue kuliah di Brawijaya. Trus gue request untuk interview dengan RSO Surabaya dan ternyata dibolehin! Baik banget.

Setelah semua proses beres, kalian akan dapat final confirmation dari pihak embassy. Kalian wajib banget ikut orientasi. Karena disana kalian bakal dijelasin tentang dos and don’ts. Misalnya nggak boleh asal ngefoto kantor, nggak boleh asal nyolokin flashdisk ke CPU kantor, dll. Semuanya dilakukan demi keamanan. Gue banyak mendapat insight baru soal keamanan ini untuk hidup , jangan asasehari-hari.Misalnya l ngefotoin ID card, jangan asal ngefotoin jendela yang mengarah ke lingkungan di luar biar orang jahat nggak gampang nyari dimana keberadaan gue, merobek kecil-kecil kertas-kertas tidak terpakai sebelum dibuang, atau tentang gimana gue harus mengamankan tas gue ketika lagi jalan di trotoar. Nggak cuman itu, gue juga diajarin gimana caranya membela diri kalau ada orang ngejahatin kita, lalu kabur misalnya. Once you become an intern, you will treat just like normal employee. Sesuatu yang underrated menurut gue. Dan memang proses yang dilewatin sebagai intern adalah proses normal yang dilewatin oleh semua orang yang kerja disana.

Oh iya, kalian juga bisa banget mengajukan banding tentang schedule internship kalian. Waktu itu gue harusnya mulai tgl 4 Juni – 30 Agustus. Sayangnya jadwal itu kepotong UAS dan libur lebaran. Jadi gue ngobrol sama supervisor dan HRD supaya dibolehin masuk kantor tanggal 25 Juni. Dan pada akhirnya gue yang harusnya selesai internship tanggal 30 Agustus, ngajuin extend untuk bisa kerja di kantor sampai tanggal 30 September 2018. Bahkan temen gue ada yang extend sampai setahun.

Pokoknya jangan pasif dan banyak bertanya. Mereka semua baik banget dan suka banget kalau kalian pun aktif dan mau belajar. Gue sering banget diajak diskusi sehabis rapat. Para supervisor gue selalu nanyain “what do you think about our latest meeting?”, “what is your opinion about our topic today?”. Hal-hal semacam itu. Diskusinya selalu berjalan asik banget dan yang awalnya ngomongin A bisa sampai Z. Macam-macam hal dibahas. Mereka nggak membiarkan gue keluar ruangan dengan pemahaman yang tumpul. Bahkan gue pernah latihan interview YSEALI sama Commercial Counselor di kantor. Orang paling senior lah. Beliau baik banget ngomentarin ini itu kurangnya dimana. Sekarang giliran kalian yang merasakan pengalaman ini.

Buat yang kepo dan mau nanya-nanya langsung dengan HRD, pihak kedutaan, dan para former interns, bisa banget datang ke acara mereka di @america. Karena bentar lagi mereka akan buka pendaftaran untuk tahun 2020. Ini posternya:

Info Magang www.atamerica.or.id


Atau kalau kalian nggak sempat dan kepengen nanya hal yang lebih spesifik pengalaman gue, gue akan bantu sebisa mungkin. Gue jawab berdasarkan pengalaman. Karena siapa tau ada beberapa kebijakan yang berubah dll. Buat yang belum baca pengalaman gue magang di kantor Foreign Commercial Service, U.S. Embassy bisa klik postingan popular di sebelah kanan sidebar. Jangan ragu komen di postingan ini atau kirim email di ekanandapna@gmail.com. Semangat!


Baca juga tulisan lain tentang magang di Kedutaan Besar Amerika Serikat di bawah ini!

Tips Lolos Interview Magang di U.S. Embassy (#FNSIP - Part 1)

Magang di Kedutaan Besar Amerika Serikat?? - #FNSIP Part 2

Saturday, January 11, 2020

Belajar dari Kasus Reynhard Sinaga

7:00 PM 0
Belajar dari Kasus Reynhard Sinaga
Ada satu pertanyaan pada sesi speaking test TOEFL iBT yang baru-baru ini gue selesaikan. Begini pertanyaannya: should schools engage in character education to instill morals and values in children? Pertanyaan yang kata si pembuat soalnya ‘familiar topics’ ini cukup membuat gue berpikir dalam. Walaupun kalau kata yang ngasih tips menjawab soal speaking sih, nggak usah terlalu mikir tentang argumennya. Nggak harus benar. Yang penting menjawab dengan runtut dan jelas ide pokok pikirannya apa.

Pertanyaan ini mengingatkan gue sama berita hot yang baru-baru ini tersebar di penjuru Inggris dan Tanah Air. Tentang kasus Reynhard Sinaga, a rapist who are gay, yang didapuk sebagai serial rapist dengan kasus paling ganas dalam sejarah UK.

Gue nggak akan membahas soal perilaku seksual dia dan kasus dia at all karena kalian semua pasti udah baca di media-media yang ada. Berita yang mencengangkan hingga Istana pun ikut dibuat geram ini kalau mau dilihat dari perspektif yang lain bisa jadi sumber pembelajaran buat kita semua. Tentang how important schools engage in character education.

MORALS & HUMAN DECENCY
Usut punya usut, Reynhard Sinaga ini adalah mantan PhD scholar yang kuliah di Leeds University, UK. Yang mau gue highlight disini adalah bukan pada kampusnya tapi pada fakta bahwa dia sebenarnya orang intelek. Orang pintar. Ya masa masuk Leeds Uni, dia bego? Pinter dong. Tapi ternyata pintar aja nggak cukup. Makanya orang bijak sering bilang, ilmu yang paling tinggi adalah ilmu yang beradab.

It doesn't matter how academically smart you are, if your foundations of morals and basic human decency are non-existent you'd still turn out to be a monster.

Waktu menulis ini juga gue jadi ingat kasus tahun lalu yang juga pernah ramai-ramainya. Tentang murid yang ngasarin gurunya karena guru menghukumnya akibat nggak ngerjain PR/mengikuti peraturan sekolah. Banyak kasus dan gue yakin kalian juga pada ngikutin.

Ada hal yang mau gue point out. Orang tuh kadang suka banget mengeneralisasi sesuatu. Misalnya ketika ada seorang guru yang emang kelakuannya bejad dan tidak bisa dibenarkan, misalnya melakukan pelecehan seksual ke muridnya. Itu nggak cukup membuat kita berpikir bahwa semua guru begitu, kan? Lalu dengan seenaknya membawa kasus yang dulu pas jaman gue sekolah biasa aja (dihardik/dihukum karena nggak ngerjain PR) ke meja pengadilan. Lah buat apa? Anakmu lho pak, bu nggak bisa dididik. Duh, kesel!

Menurut gue pribadi, penting bagi sekolah untuk ngajarin pendidikan karakter supaya anak-anak masa depan harapan Indonesia ini nggak kehilangan moralnya. Teknologi boleh canggih, otak boleh pintar, tapi kalau nggak punya basic skill sebagai manusia lalu buat apa? Kan kita kerja jadi manusia.

Ditambah lagi, banyak orang tua jaman sekarang yang dipaksa, terpaksa, atau memaksa untuk bekerja terus menerus, 9-5 or even more dan mereka nggak punya banyak waktu untuk mengajari anak-anaknya tentang perbedaan mana yang baik dan yang benar. Jika sekolah bisa mengajarkan apa yang anak-anak harus tau, the world maybe a better place. Sayangnya manusia sekarang juga nggak semuanya punya moral yang baik. Bayangkan kalau orang tua kalian adalah pencuri. Mungkin kalian akan tumbuh dan menganggap mencuri adalah perbuatan yang diterima. Nah, pendidikan moral bisa berperan disini.

Balik ke wacana mengeneralisasi, untuk segala hal termasuk kasus terorisme yang mengatasnamakan muslim juga kita nggak bisa menganggap semua muslim begitu. Yeah they're terrorists who are Muslim, but they don't represent all of us, please don't generalize.

Nah, si Reynhard ini juga banyak diberitakan bahwa dia orang baik dan rajin beribadah ke gereja. Kita juga jadi nggak bisa menganggap orang yang taat beribadah adalah orang yang paham mana yang salah, mana yang benar. Termasuk jika kita melihat orang yang tatoan, ngerokok, minum, eh baiknya ternyata luar biasa nggak dibuat-buat.

Manusia memang semakin rumit dengan segala persoalannya, ya?



Source: twitter.com

Dari kasus ini juga kita jadi belajar bahwa ternyata nggak melulu perempuan yang selalu jadi korban. Laki-laki pun juga bisa jadi korban sexist, pelecehan seksual, dan tindak kekerasan yang menentang HAM lainnya.


FOKUS KE KORBAN

Gue kenal seseorang yang kena sexual harrasment. Dia dibius hingga tak sadarkan diri, kayak orang pingsan, dan di-raped di sebuah taman. Pelakunya ada empat orang dan mereka adalah orang-orang yang ia kenal. Dia dipukuli hingga badannya memar dan luka-luka. Bisa kalian bayangin setakut apa dia saat itu? Atau ketika ia sadar dan melihat dirinya udah nggak lagi sama? Bisa kalian bayangin setrauma apa dia bahkan gak ada yang bisa jamin kapan trauma itu akan hilang?

Tebak apa yang keluarganya katakan saat setelah berminggu-minggu kemudian ia bercerita tentang kejadian itu.
“Kok kamu gak lapor polisi, sih?”
“Kenapa kamu diem aja?”
“Kenapa kamu nggak ngelawan?”
“Makanya jangan ganjen, kamu pakai baju juga terbuka gitu.”
“Kalau aku jadi kamu, aku pasti bakal teriak.”
“Apa betul kamu kena sexual assault? Logikanya kan kalau kamu merasa violated, ya kamu lapor. Kemarin-kemarin kemana aja?”

Bahkan ada salah satu anggota keluarganya yang nyeletuk,
“Ini beneran? Apakah ini cuma drama yang dia ada-adain aja?”

Instead of kita berempati terhadap apa yang korban rasakan, kita lebih fokus sama apa yang korban harusnya lakukan. Kita jadi meng-underestimate apakah iya kita akan berlaku demikian ketika kita dihadapkan sama kejadian yang serupa? Betul. Initial thoughts kita pasti akan membuat kita berpikir reaktif pada kejadian tersebut, tapi jangan lupa bahwa kita punya fear atau rasa takut. Apalagi kalau yang ngomong begini adalah orang-orang yang memang bekerja pada institusi yang seharusnya jadi pelindung warga negara. Yang perlu dipahami adalah human cognition itu state-dependent atau tergantung sama kondisi mental dia saat itu.

Termasuk ketika masuk ke meja pemberitaan. Banyak berita yang lebih mengulik korban daripada mengorek pelaku. Nama—kadang inisial, sekolah dimana, alamat rumah, dan informasi pribadi lainnya. Bahkan banyak juga yang memberitakan keluarga korban, termasuk fotonya juga. Dalam hal ini kita bisa ambil pelajaran dari media-media di Inggris yang sama sekali tidak boleh mem-posting berita tentang identitas korban kecuali korbannya sendiri yang berkenan.



Btw, kok pembahasannya jadi kemana-mana ya? Pokoknya begitu, simpulin sendiri aja deh ya.
Semoga bermanfaat aja deh! Hihi.

Friday, January 10, 2020

Rekomendasi Buku Favorit di Tahun 2019

3:38 PM 0
Rekomendasi Buku Favorit di Tahun 2019


Gue suka buku. Tapi gue punya kebiasaan yang entah bisa dibilang buruk atau enggak, yaitu kalau lagi baca buku: jarang ada yang selesai. Gue selalu excited ketika ada buku yang menarik, membungkusnya pulang, dan mulai membaca. Namun, gue biasanya akan mulai dari melihat daftar isi kemudian langsung menuju poin ke apa yang sedang gue cari. Kasus lainnya yang juga sering gue lakukan adalah membacanya dari depan, lalu mulai memindai singkat ke hingga akhir. Entahlah apakah ini adalah metode yang orang-orang lain juga lakukan ataukah memang seseorang perlu membaca buku dari awal hingga akhir untuk mendapat informasi lengkap yang nggak bias.

Literally, gue baca apapun. Minat gue terhadap suatu genre yang spesifik sering berubah-ubah tergantung....nggak tau juga tergantung apa. Hari ini tiba-tiba lagi suka banget baca sastra, besoknya mikir, kayaknya baca non-fiksi aja deh biar pemikirannya nggak dangkal. Besoknya lagi baca komik, dll. Apapun yang kelihatannya menarik gue lahap, apalagi kalau gue menemukan pertanyaan dan jawabannya ada di suatu buku. Udah pasti gue masukin ke antrian buku yang harus dibaca.

On top of that, artinya gue nggak membatasi bacaan gue. Tapi gue membatasi belanjaan buku gue. Kenapa? Gue puasa beli buku. Bukan yang sama sekali nggak beli. Cuman membatasi aja dalam rangka pengen pelan-pelan hijrah ke e-book. Pertama karena rak buku gue udah penuh. Kedua buku-buku itu butuh perawatan ekstra apalagi rumah gue gampang banget debuan. Apalagi di kamar. Untuk orang yang sensitif sama debu kayak gue gini bersihin permukaan buku yang berdebu itu PR banget! Alasan lainnya adalah sepertinya e-book lebih affordable dibanding buku fisik. Walaupun memang ada beberapa buku yang gue rasa nggak banget kalau dibaca versi e-book-nya.

Nah ini bisa jadi tips juga nih buat kalian yang ingin memilah belanjaan buku untuk meminimalisir buku-buku yang nggak jadi dibaca karena isinya nggak cocok atau ternyata mengecewakan. Gue biasa cari dulu rating dan review dari sebuah buku. Cara yang paling sering gue gunakan adalah lihat rating dan baca review via GOODREADS. Kalau reviewnya menarik, ratingnya bagus, sinopsis juga oke gue baru beli, hehe. Gak mau rugi.


Goodreads.com

Intronya panjang banget, astaga. Anyway, gue pingin sharing ke kalian tentang buku-buku favorit yang gue baca di tahun 2019. Daftar buku kali ini banyak yang berasal dari kategori self-help. Karena memang tahun 2019 gue lagi ada project tentang ini. Semoga bisa membantu kalian yang lagi pengen baca sesuatu tapi bingung mau baca apa. Atau buat yang ingin menambah referensi bacaan juga. Jangan lupa berikan komentar di bawah postingan ini ya! Buku apa sih yang kalian lagi baca atau rekomendasikan?

Yuk, kita mulai!

1.     THE SUBTLE ART OF NOT GIVING A F*CK

Buku ini gue beli di bulan Mei 2018 sebenarnya. Nggak sengaja ketemu pas lagi di bandara Los Angeles, buku ini ada di deretan bestseller. Cover-nya yang nonjol banget karena warnanya oranye nyentrong gini menarik perhatian gue. Dan gue baca sepanjang perjalan dari U.S. ke Indonesia saat itu, kemudian gue review. Waktu itu buku ini belum masuk di Indonesia, belum booming tapi gue udah masukin ke Instagram Stories. Bangga banget gue. Haha.



Mark Manson, pengarang buku ini adalah penuls blog yang aktif sejak tahun 2009. Namanya kian dikenal dengan diterbitkannya buku ini. Di Indonesia sendiri buku ini sudah dicetak ulang sampai ke-20. Beliau baru aja nerbitin buku barunya, lho!

Tidak sama dengan judulnya, Manson justru ingin memberitahu kita persoalan apa yang perlu betul-betul dipikirkan dan masalah apa yang perlu disikapi dengan bodo amat. Buku ini memberi kita pendekatan yang waras untuk menjalani hidup yang lebih baik dengan beberapa seni untuk bersikap bodo amat:

-          Masa bodoh bukan berarti acuh tak acuh, artinya kita hanya boleh peduli dengan tujuan yang hendak dicapai dan bersikap acuh pada halangan dan rintangan yang mungkin akan dihadapi; menikmati permasalahan itu sebagai proses menggapai tujuan.
-          Memperjelas hal-hal penting yang diprioritaskan sehingga kita bisa bersikap bodo amat sama hal-hal sepele.
-          Menyederhanakan perhatian kita pada saat kita mulai dewasa, melupakan hal-hal yang kurang berarti untuk kehidupan, dan mulai memperhatikan hal-hal yang relevan saja.

Kata-katanya yang menohok buatku adalah,”Pada kenyataannya jalan setapak untuk menuju kebahagiaan adalah jalan yang penuh dengan tangisan dan rasa malu.” Buku ini menggunakan kata-kata yang lugas sehingga menurut gue pribadi lebih baik dibaca oleh kalangan 17+. Buku ini membantu kita melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang beda. In a nutshell, buku ini cocok buat kalian yang lagi struggle dalam mencari makna hidup atau yang sedang merasa ada di titik rendah kehidupan.

2.     FILOSOFI TERAS

Buku ini adalah buku tentang filsafat yang bersifat praktis, yang lebih membumi sebagai bagian dari praktik dan latihan. Buku ini relevan untuk diterapkan dalah kehidupan sehari-hari, contohnya saat kita kesal karena terjebak macet, menghadapi omongan orang tentang kita, mengelola rasa khawatir atau negative thinking dalam diri kita, dll. 



Istilah “filosofi teras” sendiri adalah penyederhanaan dari “stoisisme” atau “stoa”, sebuah cabang filsafat yang dipelopori oleh Zeno di Athena masa Yunani kuno 300 tahun sebelum Masehi atau 2300 tahun yang lalu. Zeno sendiri kerap mengajarkan filosofinya di teras berpilar atau yang disebut “stoa” dalam Bahasa Yunani, diterjemahkan menjadi “filosofi teras”.

Bicara tentang filosofi teras sendiri menarik bagi gue. Konsep-konsep yang dituliskan adalah hal baru buat gue—karena anaknya gak pernah baca filsafat. Contohnya tentang dikotomi kendali. Konsep ini mengajarkan kita bahwa ada hal-hal yang ada di bawah kendali kita dan ada yang tidak (entah ada pada kendali orang lain atau alam). Karena itulah disini ditekankan bahwa kita nggak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang diluar kendali dan fokus ke hal-hal yang memang bisa kita kendalikan.

Ada yang menarik lagi. Tentang interpretasi dan persepsi. Penulis memaparkan konsep STAR (Stop, Think and Assess, dan Respond). STAR ini berguna supaya kita bisa mengendalikan emosi negatif. Nah, waktu kita emosi nih kita perlu secara sadar menghentikan (stop) emosi tersebut, lalu berpikir (think) dan menilai (assess) kejadian tersebut secara rasional, lalu mengakhirinya dengan aksi (respond) yang merupakan hasil dari pemikiran yang didasarkan pada nalar.

Bagian mind-blowing lainnya adalah tentang kekhawatiran orang tua. Tentang pemikiran bahwa “anak harus berbakti pada orang tua karena pengorbangan orang tua”. Padahal membimbing dan berkorban untuk anak adalah hal yang selaras dengan alam karena itu memang kewajiban dari orang tua. Jadi orang tua tidak perlu mengungkit hal tersebut sebagai sebuah investasi. Gue yang sebagai anak juga jadi kecipratan pemikiran ini. Karena status gue sebagai anak, jadi gue sering ngerasa harus balas budi, kayak punya utang ke orang tua. Nah, kita pun kudunya berpikir bahwa berbakti pada orang tua adalah hal yang selaras sama alam, jadi nggak perlu mikir hal tersebut sebagai balas budi.

       Hidup dengan emosi negatif yang terkendali dan hidup dengan kebajikan atau hidup bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi manusia.”

3.     HOMODEUS

Ini adalah buku Yuval Noah Harari pertama yang gue baca. Padahal Homodeus adalah buku kedua dari semua seri buku yang Harari keluarkan. Buku ini direkomendasikan oleh banyak tokoh besar seperti Mark Zuckerberg, Bill Gates, hingga Barrack Obama. 



“Homodeus menunjukkan kemana kita akan pergi”, kata Harari dalam bukunya. Buku ini menelaah ke masa depan dan mengeksplorasi bagaimana kekuatan global bergeser. Kekuatan utama evolusi seperti seleksi alam akan digantikan oleh teknologi yang membuat manusia seperti Dewa, contohnya kecerdasan buatan dan rekayasa genetik. Era kecerdasan buatan akan mengambil sebagian besar pekerjaan manusia untuk dikerjakan oleh robot, komputer, dan mesin. Banyak manusia yang menjadi pengangguran dan muncul kelas baru yang mengendalikan semua lini kehidupan. Menariknya, mesin-mesin tadi lebih memahami manusia daripada manusia itu sendiri.

Membaca buku ini membuat gue teringat serial Netflix favorit gue, Black Mirror. Disana ada episode yang menjukkan bahwa teknologi mengambil alih hampir seluruh aspek termasuk dunia asmara. Diceritakan ada dua tokoh utama dalam episode ini yang mencari pasangan. Ketika saling memilih pasangan, mereka akan disuguhkan dengan kalkulasi kecocokan keduanya—tentu saja dengan tidak mengkalkulasi data perasaan.

Seiring berjalannya waktu, manusia nggak cuman akan kehilangan dominasinya atas dunia, tapi semuanya. Atas nama kebebasan dan individualisme, mitos humanis adakan dibuang seperti barang usang. Lalu apa yang harus kita lakukan?

4.     PURPOSE

Buku ini menceritakan kisah seorang perempuan yang pernah ada di balik panggung Gojek, siapa lagi kalau bukan Alamanda Shantika. Menariknya dalam buku ini Alamanda blang bahwa tujuan hidup bukan hanya soal menemukan passion, tapi juga mengetahui dirimu sendiri. Ia bercerita jatuh bangun kegagalan yang silih berganti. Jatuh, terpukul, dan kecewa bagi Alamanda adalah proses. Sedangkan berusaha maju tanpa rasa takut adalah keharusan. 



Buku ini ringan karena menggunakan bahasa sehari-hari, membuat kita merasa diberi cerita oleh yang nulis. Gue baca buku ini sekali duduk lalu selesai. Sebuah pencapaian. Katanya,”knowing yourself is important not only find yourself.”

       “Every problem is opportunity, don’t ever say that you don’t have opportunity. You make that opportunity if you want to!”

5.     BUMI MANUSIA

Siapa yang nggak kenal nama Pramoedya Ananta Toer? Seniman dan pentolan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) ini pernah dipenjara di rezim Orde Baru Soeharto tanpa pernah diadili. Koleksi buku-buku dan catatan arsipnya, termasuk tulisan-tulisannya yang belum terbit dibakar. Pram dibuang ke Pulau Buru. Bermodalkan ingatan, Pram menyusun cerita novelnya di pulau tersebut.

Mulanya, cerita itu ia susun secara lisan dan dikisahkan pada sesama tahanan. Baru pada tahun 1980, setelah mengumpulkan catatan yang berserakan yang diam-diam diselundupkan keluar Pulau Buru, novel pertama tetralogi Bumi Manusia terbit. Setelah enam bulan beredar, buku ini jadi bacaan terlarang. Pemerintahan Soeharto menuding novelnya mengandung ajaran Marxisme dan Leninisme. Dari situ justru karyanya melegenda di luar negeri. 



Buku ini mengambil latar di abad ke 19 (1890-1899) di negeri ini yang namanya masih Hindia Belanda. Kita akan diajak menyelami karakter Minke, seorang pribumi sekaligus siswa HBS Surabaya. Ia merupakan seorang yang cerdas, pandai menulis dan begitu mengagumi peradaban Barat karena menurutnya negara Barat melahirkan modernisasi di bidang ilmu pengetahuan.

Pada suatu waktu Minke menerima ajakan temannya, Robert Suurhof memenuhi undangan di rumah Nyai Ontosoroh. Di rumah inilah Minke bertemu Annelies Mellema yang merupakan Indo, anak dari Nyai Ontosoroh. Keluarge Nyai punya kisah penuh tragedi mulai dari permusuhan dengan anak sulungnya, Robert Mellema dan suaminya, Herman Mellema yang mati secara misterius. Puncak konflik pada cerita ini adalah ketika Minke dan Nyai Ontosoroh melawan pengadilan putih.

Menurut gue yang lebih menonjol dari cerita ini adalah pada konsisi sosial rakyat Indonesia pada masa kolonial. Meskipun mengandung unsur sejarah, penggambaran era penjajahan tersebut digambarkan dengans sangat baik dan akurat seperti pembagian etnis dan hak-haknya antara Eropa, Tionghoa, Indo, dan Pribumi. Penokohannya juga kuat. Pram nggak cuman membahas para karakter utama saja, tapi figuran seperti Meiko, pelacur langganan Robert Mellema yang mengidap sipilis pun memiliki porsi sendiri tentang bagaimana orang Jepang tersebut bisa sampai di Indonesia dan bekerja di rumah Babah Ah Tjong.  

Ah, kalian baca sendiri aja! Nggak heran kalau sampai New York Times memuji Bumi Manusia sebagai contoh karya sastra yang indah dari Indonesia. Sedangkan Washington Post memujinya sebagai salah satu karya seni terbesar abad ke-20.

Membaca karya sastra terutama yang terbit puluhan tahun lalu memang punya sensasi yang beda ketika kita membaca novel pop yang ringan. Butuh ketekunan. Lewat membaca Bumi Manusia kalian bisa membuktikan sendiri prosanya.



Sebenernya ada beberapa buku lainnya yang masuk ke dalam daftar. Tapi karena kayaknya postingan ini udah panjang jadi kita akhiri sampai sini aja ya! Ps: bilang aja males nulisnya.

Nah, kasih tau dong buku favorit kalian apa!

Baca Juga Ini Ya!