Cantik dan Pintar Tanpa Attitude - Lagi Monolog

Monday, November 25, 2019

Cantik dan Pintar Tanpa Attitude

Gila. Udah empat bulan gue sama sekali nggak mampir ke blog ini. Padahal selepas skripsi, target gue adalah menulis minimal sekali dalam sebulan. Tapi, memang benar kata Nadiem Makariem dalam pidatonya di Hari Guru Nasional tahun ini. Katanya,"Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh ketidaknyamanan". Komitmen untuk menulis secara konsisten ini adalah sebuah perubahan yang menantang buat gue.

Apa yang akan gue  bahas kali ini sedikit-banyak masih relate sama yang namanya perubahan.

Oke, jadi gini...

Selepas gue wisuda, gue makin dihadapkan sama yang namanya realita. Bukan realita kaleng-kaleng kayak yang dihadapi semasa kuliah. Lebih dari itu. Ibaratnnya, tempat tinggal dan kuliah adalah tempat nyaman dan aman buat gue. Keluar dari sana, kayak masuk ke dalam hutan, terjun ke samudera, bahkan bisa aja gue sebut dunia ini tanpa istilah karena gue sama sekali nggak tau gue ada di lingkungan seperti apa. Termasuk apa dan siapa yang akan gue hadapi di dunia yang kacau ini.




Seperti layaknya perjalanan manusia lainnya, gue semakin banyak dipertemukan dengan manusia yang aneh-aneh. Entah gue yang belum bisa bodo amat sama sekitar, atau emang manusia-manusia di dunia makin nggak bisa menaruh respect ke orang lain. Ada beberapa kejadian yang diceritakan temen-temen gue tentang pengalamannya tidak di-respect sama orang lain. Kali ini gue juga pengen cerita apa yang gue alami.

Beberapa minggu lalu, gue dan Mas Satrio berburu diskon 11.11 di KFC. Kebetulan karena kami lagi di Matos, mampirlah kami ke KFC Matos. Antreannya nggak terlalu panjang, cuman posisi gue udah mentok banget di depan pintu KFC yang menghadap ke luar (bukan pintu masuk via Matos). Kemudian, ada seorang cewek berjilbab buka pintu dengan tolakan keras sehingga pintu itu menghantam punggung gue sampai gue terpental dari posisi gue berdiri. Sakit coy. Kala itu gue meringis dan nggak sengaja bertatapan sama si mbak-mbak yang ngebuka pintu itu. Dia diem aja, sama sekali nggak mengucapkan sebuah kata sakral yang menurut gue adalah dasar dari attitude seseorang ketika melakukan kesalahan: minta maaf. Walaupun tanpa dia nggak minta maaf pun juga bakal gue maafin. Yakali gue dendam sama orang asing. Tapi, apakah ketika lo menyakiti orang lain lo akan pura-pura nggak tau, sekalipun itu nggak lo sengaja?



Lagi, pernah suatu kali ada adek kelas gue di sebuah organisasi nge-chat minta dikirimin sebuah file yang membuat gue lolos suatu program. Dia ingin lolos juga di program yang sama. Setelah gue periksa, file itu penuh dengan hal-hal privasi yang menyangkut value perusahaan, rencana jangka panjang dan pendek, dan hal-hal lainnya seperti skema keuangan, strategi, dll. Ya lo bayangin aja kalo lo punya sebuah usaha dan isi dapurnya semua lo masukin disana, kemudian ada orang lain yang minta file tersebut. Walaupun dokumen yang di-share nggak mencakup semua hal,  orang lain bisa menyimpulkan poin-poin penting saat ia membaca file tersebut. Makanya sebelum kirim gue wanti-wanti banget orang ini supaya menjadikan file tersebut  sebagai insight tambahan aja, no copy-paste lah intinya. Saat itu gue mikir-mikir apakah gue yakin akan mengirimkan file penting ini ke orang lain. Tapi setelah gue renungkan kembali, sepertinya gue bisa memercayai dia.

Singkat cerita, gue kirimkan file tersebut melalui email. Ternyata ada hal yang  membuat gue menyesal dan kecewa karena udah ngirimin file itu. Bukan karena orang itu menjiplak hasil karya gue. Ada hal pertama yang seharusnya dilakukan seseorang ketika menerima sesuatu dari orang lain. Hal yang lebih menyakitkan (ternyata) alih-alih seseorang menyalahgunakan sebuah kepercayaan. Hal sederhana berbunyi: terima kasih.

Beberapa hari gue biarin, kali ini gue yang menghubungi dia duluan. Bukan karena gue gila hormat. Pertama, karena gue nggak ingin kehilangan respect juga orang ini. Kedua, gue nggak pengen kecewa sama orang ini. Sayang, dia cantik dan pintar. Gue yakin banyak orang di luar sana yang mengagumi dia dan menjadikannya sebagai role model.

Setelah gue chat, dia menjawab. Baguslah. Gue lega karena impresi buruk tentang orang ini sudah diperbaiki. Namun, ternyata gue salah. Sumpahhh kalo inget gue pengen nangis. Tapi ntar gue dibilang baper...... Suatu hari, gue ketemu orang ini di sebuah ruangan. Dia lihat gue. Sayangnya orang ini sama sekali nggak menegur. Sampai kita 4 jam di ruangan yang sama, nggak ada interaksi sama sekali. Keesokan harinya, gue ketemu lagi sama orang ini. Dia nyapa temen-temen gue. Tapi gue nggak ditegur sama sekali. Padahal gue dan temen-temen gue lagi bareng saat itu. Apakah ini yang disebut: dateng cuman pas butuhnya doang?

Tulisan ini adalah hasil  keresahan yang gue alami. Beberapa contoh yang disebutkan juga hanya sebagian kecil dari tingkah polah manusia-manusia yang makin beragam dan aneh. Kalo kalian ada yang ngerasa kesindir, bagus. Gue nggak merasa harus minta maaf kalo ada dari kalian yang kesindir sama tulisan gue karena bukankah memang itu yang harus dilakukan? Respect. 

Kalo kalian kesindir, lakukan perubahan. Respect others. Gue nggak pengen ada makin banyak manusia yang nyeleweng dan lupa kalo dirinya adalah manusia yang tugasnya juga harus bisa memanusiakan orang lain. Percuma kita kaya, pintar, cantik rupawan, tapi kalau basic attitude untuk menjadi manusia nggak tau. Percuma kalau punya ilmu tapi nggak punya adab. Puncaknya ilmu adalah adab yang mulia. Sebagian gue yakin tau, tapi nggak dilakukan. Poor you, human.


Iya, gue tau gue juga manusia. Makanya gue sadar dan nulis ini. Buat jadi pengingat ke diri sendiri juga kalau gue nggak bisa memanusiakan manusia lainnya, berarti gue menjilat ludah gue sendiri.
Cheer up! Kalo ada yang mengalami hal-hal aneh lainnya atau punya pendapat lain, gue terbuka. Kalian bisa tulis di kolom komentar.



---
Ditulis di kala hujan
dari sudut Kantor

No comments:

Post a Comment

Baca Juga Ini Ya!