July 2020 - Lagi Monolog

Monday, July 6, 2020

Enam Juli Dua Ribu Dua Puluh

6:57 PM 0
Enam Juli Dua Ribu Dua Puluh
Hai Juli! 

Ketemu lagi kita sama tanggal 6. Kalau nggak salah, 23 tahun yang lalu gue dilahirkan ke bumi. Hari yang disebut-sebut sebagai hari ulang tahun ini udah nggak terasa spesial lagi. 

Biasa aja.

Lagian nggak cocok banget kalau dinamain ‘ulang tahun’. Kan nggak ada yang bisa diulang?




Ngomong-ngomong tentang tanggal 6 Juli, sejak kuliah gue jadi ketemu banyak banget orang yang lahir di tanggal yang sama. Mulai dari temen bule gue si Tracy; mantan Vice President di AIESEC, Kak Dito; kakak tingkat yang sekaligus pernah terlibat di project dan organisasi yang sama, Mbak Clara; hingga temen sekelas gue si Hafiz juga lahir di tanggal 6 bulan Juli. Lucu aja gitu, Hp dan sosmed gue jadi rame banget di tanggal 6 karena pada saling kirim ucapan.

Daaaann ngomongin soal ulang tahun pasti nggak jauh-jauh hubungannya sama umur. Kalau inget umur, gue jadi inget salah satu teori yang berhubungan dengan tokoh dunia, Leonardo Da Vinci. Menurut salah satu sumber, Da Vinci punya kebiasaan tidur yang dinamakan Uberman Sleep Cycle. Ia hanya tidur selama 20 menit dalam empat jam. Jadi misalnya jam 1-4 dia bangun, terus dia bakal tidur selama 20 menit, kemudian bangun lagi. Yaaaa kalau ditotal dia hanya tidur selama 2 jam sehari.

Ada salah satu video yang membahas tentang kebiasaan tidur Om Da Vinci ini. Let’s say, umur hidup manusia tuh rata-rata 72 tahun. Ketika kita tidur selama 8 jam per hari dan kita kalikan dengan umur hidup manusia, maka total 24 tahun kita habiskan untuk tidur. Ketika Om Da Vinci menerapkan Uberman Sleep Cycle, dia bisa menghemat 18 tahun di hidupnya untuk terjaga.

Setelah nonton dan mempelajari teori itu gue jadi mikir, apa iya orang-orang sukses tuh tidurnya bentar? Atau malah jarang tidur?

Eittssss, tunggu...tunggu...

Kenapa jadi ngomongin sleep cycle Om Da Vinci, sih?

Hehehe, habisnya gue kehabisan topik. Bener-bener nggak ada yang spesial di hari ulang tahun, sampai nggak ada yang bisa diceritain, kecuali kenyataan bahwa gue masih bisa melakukan sesuatu yang—InsyaAllah—bermanfaat buat orang lain, masih dikelilingi temen-temen yang masih peduli—walau temen gue juga nggak banyak-banyak amat, keluarga gue masih utuh, gue masih punya orang-orang yang masih sayang sama gue, dan tentunya masih dipercaya oleh Sang Pemilik Semesta untuk mendiami semestanya.

Moreover, kenyataan bahwa kenikmatan-kenikmatan itu bisa gue peroleh setiap hari tanpa perlu harus menunggu hari ulang tahun, rasanya sungguh luar biasa. Kayak nggak butuh apa-apa lagi.

Di tulisan kali ini gue lebih kepengen ngomong ke diri sendiri aja sih.  

Be strong.
23 might be more challenging and having more shit to throw at you.
23 may not be the best year of your life,
But to have that 'best', you gotta pass a year of 23.  

Thank you for always believe what you believe
Thank you for being confident enough to choose a life that may be harder than the others
Thank you for always make even tiny little steps everyday to live and go ahead.

Dan yang nggak kalah penting adalah….

Semoga dikuatkan ketika harus berhadapan dengan berbagai pertanyaan “kapan” yang bahkan gue sendiri nggak tau apa jawabnya.

Friday, July 3, 2020

Tentang Hubungan Tanpa Status

9:15 AM 1
Tentang Hubungan Tanpa Status
Sudah tiga tahun lebih gue menjalani apa yang orang-orang sebut dengan “hubungan tanpa status”. Walaupun manusia berubah, waktu mengubah, keadaan diubah, gue masih berjalan ditemenin orang yang sama. Sebenarnya gue agak ragu mau nulis tentang kitacieeelaahh. Bukan karena gue gak pengen berbagi jawaban soal pertanyaan yang sering dilontarkan ke kita tentang: Gimana sih caranya biar awet begitu? Tapi lebih ke karena gue gak mau mendahului keputusan semesta. Kan sedih banget nanti kalau ternyata kita gak bisa bareng sampai check point berikutnya, ya gak?

Baca Juga Ini Ya!