July 2019 - Lagi Monolog

Saturday, July 20, 2019

SKRIPSI GINI DOANG, TOH!

7:46 PM 1
SKRIPSI GINI DOANG, TOH!
Sejujurnya gue udah bikin jadwal nge-post tulisan di blog ini setiap hari Sabtu/Minggu. Dan ternyata udah tiga bulan yang lalu gue nge-post tulisan. Pertanyaannya, kemana aja gue selama tiga bulan ini?

Jawabannya mungkin udah bisa ditebak. Gue sedang berusaha jadi anak baik yang berbakti pada orang tua. Salah satu caranya adalah lulus maksimal empat tahun. Nggak lebih. Walaupun suatu hari gue pasrah aja kalau emang harus lulus lebih dari empat tahun, gue harus bayar UKT sendiri. Gamau tau gimana caranya.

Mringis mulu



Singkat cerita, gue berhasil dinyatakan lulus pada tanggal 18 Juli 2019. Di Yudisium pagi itu gue nggak berharap banyak mau nilai IPK gue berapapun, gue bersyukur banget bisa lulus sebelum empat tahun jatah gue lewat. Gak taunya, dari proses awal kepenulisan skripsi sampai hari kelulusan itu pun Allah selalu kasih hadiah yang nggak berhenti-berhenti. Nama gue dipanggil pertama kali se-jurusan bisnis di Yudisium kemarin. Gue dinyatakan lulus Cumlaude, yang saat itu cuma satu doang. Di samping gue, ada Mega ngomel-ngomel terus kenapa dia di nomor 2, sedangkan gue nomor 1.

Anyway, sejujurnya gue nggak begitu mempeributkan berapa besar IPK gue karena IPK yang tinggi, bahkan dinyatakan Cumlaude, itu bisa jadi beban besar yang memengaruhi tumbuhnya jerawat di muka. Stress, haha. Seriusan. Orang lain pasti akan berekspektasi sama lo dan lo harus bisa approve, sebagai pertanggungjawaban nilai itu, kan? Akhir-akhir ini gue benci banget sama yang namanya ekspektasi. Jadi, let be honest, stop berekspektasi ke gue guys. Untuk hal apapun. Kalian itu juga hebat. Kita semua hebat. Tinggal gimana lo-nya yang ngolah self branding itu. Tapi nggak perlu menaruh ekspektasi ke orang lain, cukup ke diri sendiri aja.


REVISI CUMA 2 JAM

Sidang akhir skripsi gue dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 2019. Empat hari sebelumnya, pengumuman sudah diposting di akun Jurusan Bisnis dan gue deg-degan luar biasa! Kira-kira berapa orang ya yang gue temuin dalam empat hari itu buat minta wejangan? Bahkan tiap malem gue nanya Mas Satrio buat nyiapin jawaban sidang. Sampai orangnya bosen banget. Endingnya dia cuma jawab "Gimana kalo kamu sidang dulu baru nanya?" Menurutnya pertanyaan gue nggak substansial banget. Ditambah lagi, gue tanyain berulang-ulang.

Ketegangan itu menurut gue wajar sih kalo dipikir-pikir. Background gue mungkin bisa dibilang lebih ke pemasaran. Bisa dilihat dari kegiatan dan track record selama kuliah. Entah kenapa saat milih judul, gue masukin topik keuangan disana. Dan yang dipilih oleh jurusan adalah topik keuangan. Padahal semasa kuliah gue paling males sama keuangan. Nilai-nilai di mata kuliah yang berhubungan sama keuangan juga biasa aja. Ya, nilai itu bisa jadi approvement lah gimana minat dan kemampuan gue soal keuangan T.T

Ngikutin idealisme, akhirnya gue memberanikan diri ambil topik keuangan buat diangkat di skripsi. Alasan saat itu cuma satu: datanya ada di internet. Karena gue pasti bakal mager banget nyebar kuisioner atau wawancara. Dan ditambah ke-sok-sok-an yang nggak tanggung-tanggung, gue ambil tentang investasi di cryptocurrency. Dunia abu-abu buat gue.

Demi memahami cara kerjanya, gue sampai investasi ke beberapa koin dan ikutan komunitas pasar saham Amerika Serikat. Kebetulan pendirinya adalah salah satu dosen gue. Beberapa kali gue ikut kopdarnya, main trading game buatan mereka, nontonin tutorial cara baca candle stick, sampai buka akun sekuritas juga. Begitulah kerjaan gue selama proses pembuatan skripsi ini. Tapi gue seneng banget, akhirnya gue nemu alasan yang mendesak kenapa gue harus belajar tentang keuangan. Kalo nggak gitu, sampai lulus gue stupid banget soal ini. Yah, walaupun sampai sekarang juga nggak jago-jago amat sih.

Long story short, Allah lagi-lagi menunjukkan kekuasaannya dengan ngasih gue suasana sidang yang lebih cocok gue sebut “bimbingan”. Karena gue sama sekali nggak ditekan, dites, dijahilin. Justru dosen penguji gue ngajak diskusi dan gue keluar ruangan dengan merasa lebih pintar karena wawasan gue jadi bertambah selepas sidang. Bahkan kita masih sempet ngebahas soal LPDP, universitas di luar negeri, sampai keluh kesah dosen-dosen itu ngurusin borang buat akreditasi fakultas.

Geng Skripsi Bahasa Inggris di Binter


Dari sidang itu, gue dapat 2 lembar kartu revisi. Sewaktu gue baca ternyata masih banyak banget yang harus gue perbaiki. Aji, temen gue di Bisnis Internasional bilang dia cuma revisi redaksional. Amanda dan Mega juga. Nah, gue revisi dari Bab I, Bab III, Bab IV, dan Bab V juga dong!

Pas pulang ke rumah gue udah niatin bahwa gue butuh istirahat. Paling nggak di hari Sabtu dan Minggu gue pakai buat revisian. Eh, nggak taunya dasar gue. Seminggu berlalu dan gue sama sekali nggak ngurusin skripsi. Gue sibuk jualan, nyari cuan. Baru deh waktu pengumuman bayar UKT semester depan keluar, gue panik luar biasa. Procastinating emang adalah musuh besar gue.

Curhat sana-sini, Aji kasih gue motivasi. Dia bilang, revisi 2 jam cukup buat dia. Akhirnya gue juga nekad. Start jam 7 pagi dan gue berhasil kelar semua jam 9 pagi. Ternyata kuncinya cuma satu: memulai. Karena kita nggak akan pernah nyelesaiin sesuatu untuk hal yang nggak pernah kita mulai, bukan?

So, gue sengaja buka laptop buat ngetik at least satu kata aja. Dan itu sangat berhasil buat gue nulis kata-kata selanjutnya. Begitu pun waktu berlalu sampai nggak kerasa gue bisa kelar tepat 2 jam sesuai yang ditargetkan. Jadi, buat kalian yang masih males-malesan buat memulai. Nyatakan perang buat diri sendiri! Karena musuh utama lo itu cuma satu: diri sendiri.


MALES/TAKUT/SUSAH KETEMU DOSEN

Salah satu alasan skripsi nggak kelar-kelar adalah males/takut/susah ketemu dosen. Percayalah guys. Dosen itu digaji. Dan mereka pasti kerja. Kalo udah ngerasa sesusah, semales, setakut itu ketemu dosen yang notabene adalah guru kita juga, gimana ntar ngadepin bos/client yang tingkat ruwetnya lebih tinggi?


SKRIPSI GINI DOANG?

Buat kalian yang merasa “kok skripsi gue nggak ada akhirnya, ya?”. Lo nggak sendirian kok.
Tapi percaya gue deh. Nulis/nyusun skripsi nggak sesulit itu kok. Karena percaya deh, suatu saat nanti lo bakal nengok ke belakang dan heran sendiri “well, I made it”. Begitu hukum alamnya. Ketika kita udah nglewatin sesuatu biasanya jadi suka mikir, “ealaahh, gini doang?” Karena emang sesungguhnya apa yang dirasa sulit itu cuman karena kita lagi ngejalanin proses itu. Dan itu pasti berlalu. Kok bisa? Ya gimana, udah begitu hukum alamnya.

Terakhir, skripsi itu emang masterpiece. Kita bakal belajar banyak banget tentang diri sendiri, orang lain, bahkan tentang apa yang kita teliti dari proses ini. Jadi, kerjakan sebaik-baiknya tapi khawatir dan males sekecil-kecilnya. Berdoa setulus-tulusnya. Intinya skripsi itu bukan hal tersulit di dunia ini yang harus dilewati. Kalo lulus nanti, masalahnya bukan malah selesai tapi justru nambah. Jadi, semangat!


Keluarga Bisnis Internasional yang sama-sama Yudisium hari itu

Baca Juga Ini Ya!