Semesta Punya Rencana (#YSEALI - Part 1) - Lagi Monolog

Friday, December 27, 2019

Semesta Punya Rencana (#YSEALI - Part 1)

Rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput di halaman sendiri.

Nggak lama ini gue cerita sama seseorang waktu dia bonceng gue di atas motor, kalau temen gue yang punya bisnis yang saat itu produknya ada yang mirip sama yang gue rintis waktu SMA, dapat pendanaan dari sebuah foundation sebanyak 300 juta. Karyawannya banyak dan penjualannya di atas langit. Kalau aja gue nggak mood-swinger, nge-pause bisnis dan fokus aja, kalau aja gue nggak tiba-tiba memutuskan untuk masuk organisasi internasional dan membangun Laboratorium Kewirausahaan dan Inovasi di fakultas gue, kalau aja gue sedikit lebih konsisten, apakah gue akan dapat kesempatan yang sama kayak temen gue ini?


“Ah, cupu!” kata gue ke diri sendiri. Masa gue harus membandingkan hidup dengan orang lain, sedangkan ada banyak orang lain yang membandingkan hidupnya dengan hidup gue.

Kalau mau bilang hidup ini nggak adil, dikaji lagi darimana sih nilai keadilan itu ditentukan? Kayak waktu kecil kita dikasih uang 10 ribu dan kakak kita dikasih 20 ribu, kita teriak kalau orang tua kita nggak adil ngasih uangnya. Lalu kenapa saat kita besar, nenek kasih uang 100 ribu sama rata ke kita dan adik, kita juga teriak nenek tidak adil? Baik, gue akan cerita dulu sebelum kita semua bisa menarik kesimpulan.

Kali ini gue akan membagikan pengalaman gue yang stubborn nyobain program beasiswa yang sama selama 3x. Sebetulnya gue agak ragu ketika berniat membuat postingan ini. Is it too early? Am I the right person to do it? Berpikir bahwa gue belum apa-apa dan bukan siapa-siapa semakin membuat jari-jari gue mundur untuk akhirnya meyakinkan diri untuk mengetik sebuah tulisan panjang tentang ini. Gue ingat bahwa gue udah janji ke diri sendiri bahwa gue harus banget sharing tentang beasiswa ini begitu gue dapat kabar baik. Iya. Lo gak salah baca. Iya. Akhirnya gue terpilih untuk jadi perwakilan Indonesia buat pergi ke Amerika Serikat awal tahun depan untuk kuliah singkat, setelah mencoba tiga kali, lewat program yang sama bernama YSEALI Academic Fellowship. Full dibiayain oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Bukan untuk pamer. Ngapain juga. Gue selalu percaya bahwa setiap orang keren dengan caranya masing-masing. 

Nah. Berkaca dari gue yang struggle nyari referensi dari blog-walking, nontonin vlog para alumni, sampai stalking sosmed mereka (sampai gue hapal siapa berangkat kapan). Intinya gue merasa harus giving back setelah kemudahan akses dan bantuan tidak langsung dari para alumni-alumni tersebut untuk proses aplikasi gue. Jadi, kalian bisa jadikan tulisan-tulisan tentang YSEALI di blog ini sebagai salah satu referensi juga di kemudian hari. 


GAGAL, GAGAL, GAGAL

Gue masih ingat pada ambisi sejak SMP untuk merasakan budaya, bahasa, dan tekanan hidup yang berbeda di luar negeri untuk menimba ilmu. Bukan tidak nasionalis karena udah pasti gue 100% Indonesia. Bukan juga inferiority complex dengan negara orang. Gue ingin pikiran gue terbuka dan menerima perbedaan dengan cara yang benar tanpa perlu menghakimi. Salah satu caranya ya dengan menjadi perbedaan itu sendiri. 

Singkat cerita, sejak 4 tahun lalu Amerika Serikat selalu jadi somewhere I have been looked up to; dengan segala konfliknya, perbedaannya, sejarahnya, dan hal-hal yang kontroversial dan menarik lainnya. Sejak tahun 2016 gue memberanikan diri untuk nulis hal yang saat itu terdengar muluk-muluk: 2017 TRAVEL DESTINATION = BOSTON, USA. Gimana nggak muluk-muluk, tahun itu mana punya gue yang namanya paspor. Sampai akhirnya gue baca salah satu buku Rhenald Kasali berjudul Self Driving. Dalam buku itu beliau bilang yang intinya; buatlah paspor dulu biarpun nggak kemana-mana, karena setidaknya kamu punya niat. Ya, walaupun pas udah punya paspor mana punya gue duit buat pergi. Tapi yaudah, akhirnya gue nekad bikin paspor dengan ketidakpastian bakal dibuat pergi kemana.


Tahun 2016 gue kenal seseorang yang sampai sekarang masih nemenin gue, namanya Mas Satrio. Sahabat tanpa pamrih yang kalau udah mentorin gue rasanya bikin sumpek banget. Sumpeknya tuh bukan berarti dia buruk ya. Guenya aja yang bandel dan banyak dari omongan dia yang ada benernya, bikin gue kesel sendiri menerima kenyataan yang gue tutup-tutupin :v

Suatu hari di tahun 2016, orang ini mendapat kabar baik bahwa ia diterima di program short course ke U.S. bernama YSEALI. Banyak yang ia dapatkan dari sana mulai dari pengalaman tak ternilai, relasi dengan profesor dan beneficiaries di ASEAN, dll. Dan yang menarik adalah semua biaya program sudah ditanggung oleh pemerintah Amerika.

Fast forward ke tahun 2017, gue memutuskan untuk coba daftar di program yang sama untuk keberangkatan musim gugur. Saat itu, gue sama sekali nggak tau mau nulis apa di esai. Pertama, proyek sosial gue udah selesai. Kedua, gue sama sekali nggak ngerti cara nulis esai. Ketiga, gue nggak dekat dengan dosen sehingga gue bingung mau minta surat rekomendasi ke siapa. Hingga di suatu hari, Mas Satrio ngenalin gue ke salah satu dosen favoritnya yang juga bantuin dia nulis esai untuk YSEALI. Karena nggak berani minta bantuan, gue kerjakan esai tersebut dengan proyek sosial yang sudah berlalu dengan seadanya. Terlebih lagi gue minta tanda tangan surat rekomendasi ke dosen yang nggak kenal sama gue. Pokoknya hantam aja. Beberapa bulan kemudian udah pasti gue dapet notif bahwa gue nggak diterima. Bahkan ke tahap wawancara pun enggak. 


Tahun 2018, akhirnya gue berhasil mencicipi udara Amerika Serikat cabang Provo, Utah untuk berlaga di International Business Model Competition (IBMC 2018). Pengalamannya sudah gue tulis di postingan ini, silahkan dibaca (Terbang Melewati Canyon Amerika). Sepulangnya dari IBMC, salah satu alumni YSEALI yang gue kenal juga—kebetulan dia juga ke IBMC pada tahun 2017—menyarankan gue buat daftar YSEALI lagi dengan membawa startup gue yang fresh from the oven kala itu. Dia juga menyarankan untuk minta surat rekomendasi dekan karena mumpung bapak dekan masih inget sama gue karena barusan ngasih acara pelepasan sebelum gue ke IBMC. Esai juga gue kerjakan dengan lebih baik dengan bantuan non-stop dari salah satu dosen yang pernah satu project sama gue. Semuanya terasa lebih baik, hingga akhirnya gue kepanggil wawancara dengan pihak embassy. 



Sayangnya, dari banyak kesempatan yang gue coba untuk apply beasiswa, nggak ada sama sekali yang berhasil. Lolos ke tahap wawancara pernah, tapi cuma sekali dan gue gagal. Minim pengalaman. Ditambah lagi, pada waktu gue mempersiapkan wawancara saat itu, gue juga lagi magang di U.S. Embassy. So, belajar dari pengalaman kegagalan di wawancara pada program lain sebelumnya, gue berusaha mempersiapkan wawancara kala itu dengan sebaik-baiknya. Bahkan gue sampai latihan wawancara sama bos gue yang bule asli Amerika di kantor! Namun, hasil mengatakan lain dari harapan. Gue gagal lagi.


Tahun berikutnya, 2019 gue lulus kuliah. Mimpi gue udah nggak imajinatif lagi karena realita udah di depan mata. Banyak hal terjadi, mungkin gue akan cerita lain kali. Suatu hari Mas Satrio ngajakin gue bikin project sosial buat temen-temen difabel di Kota Malang. Gue setuju. Sampai akhirnya gue nggak inget tuh sama YSEALI walaupun banyak email berdatangan dari mereka, gue cuekin aja. Hanya saja, gue punya manusia alarm bernama Satrio yang nggak lupa buat ngingetin gue kalau pendaftaran YSEALI untuk Spring semester 2020 lagi buka dan deadlinenya 2 hari lagi. 

Nothing to lose, gue iseng daftar aja dengan meng-update esai tahun sebelumnya. Tidak berambisi, tapi lebih ke panggilan hati. Dengan harapan, kalau lolos produk karya difabel di project gue bisa ikut dipromosiin selama gue disana. Kalau nggak lolos, yaudah. Gue akan tetap menjalani hari dengan percaya bahwa rejeki sudah ada yang ngatur. Project yang gue ceritakan kali ini adalah Percacita, project yang sama yang sedang gue garap dengan Mas Satrio buat difabel Kota Malang. Saat itu, projectnya belum berjalan, masih promosi dan sosialisasi tahap awal. Esok harinya gue bertolak ke kantor Wakil Dekan I di fakultas yang nemenin gue berkompetisi di Amerika Serikat buat minta surat rekomendasi. Sesudah gue submit pendaftarannya, gue ngebut bikin website Percacita. Konten dan button segala hal gue kelarin dalam waktu 1 hari. Hasilnya udah pasti jelek banget! Cuman ada “isinya” lah.



KESEMPATAN DATANG LAGI

Dua minggu kemudian, gue ketemu Amel dan kita ngobrol banyak hal. Malamnya, gue iseng nge-refresh email dan kagetlah gue saat itu. Bingung mau seneng apa panik. Gue dapat email dari embassy kalau jadwal interview gue besoknya. Besoknya banget. Padahal di tahun sebelumnya gue punya waktu sekitar 5 hari untuk mempersiapkan. Ditambah lagi, jam saat itu menunjukkan pukul 8 malam. Sedangkan emailnya gue terima jam 5 sore. Setelah gue cek, pada email pengumuman 4 hari lalu sebelum hari gue ketemu Amel, email gue nggak ada. Intinya pihak embassy nggak mencantumkan email gue jadi gue nggak nerima email itu.

Panik luar biasa, karena tahun lalu aja dengan persiapan 5 hari gue gagal. Apalagi kalau persiapannya nggak sampai 24 jam? Alhasil, semalaman gue browsing blog-blog para alumni, nontonin vlog QnA tentang wawancara YSEALI, dan ngubek-ngubek file pertanyaan tahun lalu yang gue kumpulin sebelum interview. Pagi harinya gue bener-bener baru nyiapin jawaban. Gue latihan wawancara cuma 1 jam dan langsung berangkat ke Ruang Perintis buat numpang wifi untuk wawancara. Udah pasrah dengan proses dan hasil.


Sebulan kemudian waktu gue lagi fotoin produk di Percacita bareng Hafiz, temen gue yang jadi volunteer di project ini, gue iseng refresh email. Dan gue kaget luar biasa begitu dapat kabar dari YSEALI. Mereka minta untuk dikirimin file scanned passport which is gue sedikit merasa ge-er karena di blog-blog para alumni mereka cerita tentang ini juga. Walaupun sudah tertera bahwa pengumuman sementara tersebut bukan hasil akhir. Nggak banyak yang gue kabarin tentang sinyal baik ini. Paling cuma Mas Satrio dan orang tua gue aja. Kalau gak lolos malu cuy udah koar-koar kesana-kemari. Dan betul. Beberapa minggu kemudian gue dapat email konfirmasi bahwa gue akan jadi delegasi Indonesia yang akan ditempatkan di University of Connecticut untuk isu Social Entrepreneurship dan Economic Development

Mungkin beda dengan peserta terpilih lainnya, gue nggak jingkrak-jingkrak. Bukannya tidak bersyukur, tapi otak gue langsung dipenuhi banyak hal. Diterima di beasiswa bergengsi yang full didanai oleh Pemerintah Amerika Serikat, artinya mereka menaruh harapan di pundak gue. Gue punya tanggung jawab terhadap bangsa dengan karya-karya yang sedang dan akan gue kerjakan, gue juga punya “hutang” terhadap pihak-pihak yang membiayai gue. Intinya, semuanya membawa ekspektasi besar pada diri gue. Gimana caranya mereka nggak berpikir,”Udah kuliah jauh-jauh ke Amerika gini-gini aja?” Gimana caranya gue bisa lebih berguna dari yang sebelumnya. Jawaban yang hingga saat ini belum bisa gue jawab. Hopefully, I will find the answer.


 

WAKTU YANG TEPAT

Dari pengalaman ini gue belajar banyak. Seberapa pun tepat sesuatu buat kita, kalau waktunya nggak tepat, mungkin aja apa yang tepat berubah jadi nggak tepat. Kayak kutipan lagu ya? Kita adalah rasa yang tepat, di waktu yang salah. Tapi beneran. Mungkin gue emang rejeki dapetin beasiswa ini dari awal. Cuman gue kejar program ini di waktu yang nggak seharusnya gue dapetin. Bayangin aja kalau tahun ini gue nggak ngejar lagi. Mana bisa gue dapet apa yang nggak gue kejar?

Dan bahwa nilai keadilan nggak ditentukan dari seberapa besar (secara kuantitas) nilai sesuatu, tetapi dari kualitasnya. Sepuluh ribu untuk adik dan dua puluh ribu buat kita, kata adik kita itu nggak adil karena kuantitasnya nggak sama. Tapi itu cukup adil buat kita yang lebih besar karena mungkin kebutuhan kita lebih banyak. 

Perbincangan di motor kala itu ditutup dengan celetukan orang itu. Begini dia bilang,”Udahlah. Dia dapat 300 juta tapi sama sekali nggak pernah ke Amerika, dibayarin untuk belajar seperti kamu. Rejeki sudah ada yang ngatur.” Gue resapi celetukan itu baik-baik. Memang. Tugas kita tinggal menjemput rizki-Nya. Jadi buat yang ngerasa kok hidupnya gitu-gitu aja, mungkin ada beberapa faktor:


  1.  Mungkin lo yang nggak peka sama nikmat sekecil apapun yang Allah kasih
  2. Mungkin juga lo yang nggak menjemput rezeki itu, makanya walaupun udah diatur sedemikian rupa rezeki itu nggak dekat
  3. Waktu yang nggak tepat. Bisa jadi apa yang dikasih sama lo sekarang adalah yang tepat buat lo dan yang lagi lo perjuangin akan tepat buat lo di kemudian hari.


Jangan berhenti bergerak. Sampai lo bisa menerima ketidakhijauan rumput di halaman rumah lo seperti hijaunya rumput di halaman tetangga.



Mengenai pendaftaran, dokumen, wawancara, dll tentang program lanjut ke Part 2.....

2 comments:

Baca Juga Ini Ya!