February 2020 - Lagi Monolog

Saturday, February 22, 2020

Filosofi Cicak

9:21 PM 0
Filosofi Cicak
Akhir-akhir ini Mas Satrio kembali memberikan petuah-petuah hidup ke gue. Setelah dia kepo panjang kali lebar tentang berapa pendapatan gue per bulan sekali dapat klien. Petuahnya kali ini ia sebut sebagai “Filosofi Cicak”. Dan di postingan ini gue akan ceritakan sedikit tentang filosofi ini. Semoga bisa menjadi pegingat rasa syukur bagi semuanya yang membaca.




Sebenarnya gue sama sekali nggak mau menyebut stage gue sekarang sebagai quarter life crisis, karena....ya karena nggak mau saja. Bingung mau milih jalan mana yang betul-betul dipinginin, bingung mana yang betul-betul kata hati mana yang cuman ambisi, bingung apa yang sebenarnya dituju, sampai harus berkali-kali bertanya ke belakang: sebenarnya apa sih tujuannya manusia diturunkan ke bumi? 

Waktu gue berkumpul sama teman-teman lama, gue sudah banyak nggak relate sama jalan hidup mereka. Atau sekadar topik ringan yang mereka omongin, gue nggak ngerti. Bagaimana mereka mendapatkan promosi, bagaimana mereka menghabiskan waktu istirahat dengan coba menu-menu kafe baru di lantai bawah kantor mereka, dan banyak hal. 

Apalagi waktu mereka ngomongin soal gaji. Berkali-kali gue mikir, bisa nggak ya gue yang serabutan gini bisa dapat gaji dua digit kayak mereka? Networking yang bagus dan luas, bisa dapat banyak kesempatan untuk bertumbuh di industri yang dlihatnya tanpa menggunakan kacamata. 

Alhasil gue cuman senyam-senyum, pretend like I’m enjoy the conversation, pura-pura ngerti. Lebih kepada menghormati mereka yang terlihat bahagia membicarakan hidupnya—atau mereka juga sebenarnya tidak benar-benar bahagia membicarakannya. Life must go on, they said.

Gue bukannya tidak pernah menimbang banyak opsi dalam rencana ke depan. S2, kerja, usaha sendiri, atau nikah saja lah. Nggak, yang terakhir itu bercanda. Sering banget gue mikir, apa gue ke Jakarta juga ya? Meniti karir? Jujur saja, gue nggak begitu gencar masukin pendaftaran di perusahaan-perusahaan begitu sih. Jadi sebenarnya maunya apa coba? Apa gue adem ayem saja bertahan di Malang yang mulai panas ini dengan berusaha di kaki sendiri? Mana sih opsi yang strategis buat gue? Banyak banget pertimbangan. Dan gue yakin banyak orang yang juga think thousand times for life. 

Di tengah kekalutan duniawin ini, sebulan ke belakang, Allah kasih gue hadiah banyak banget. Entah apakah ini adalah sinyal-sinyal yang akan ngebantu gue memilih dengan tegas keesokan hari? Kayak postingan-postingan iseng yang gue upload di sebuah platform, tiba-tiba ada beberapa orang yang nanyain soal itu. Perlahan tapi pasti, gue menggiring mereka untuk sampai ke tahap purchasing. Makin kesini, nominalnya makin naik. Sangat cukup untuk gue bisa menabung dan investasi. Walaupun ngomong kayak gini juga rasanya terlalu dini. Karena kan juga belum stabil banget, baru permulaan. Tapi gue sampai bingung dibuatnya. Bagaimana orang-orang itu bisa percaya sama orang kayak gue? Emangnya mereka nggak takut kecewa begitu? Nggak takut gue tipu? Walaupun gue juga nggak punya niatan nipu.

Hobi gue lainnya yaitu menulis juga mulai banyak yang baca. Nggak cuman blog, di sebuah platform menulis tulisan fiksi juga gue mulai dapat feedback, walaupun nggak sebanyak yang lain. Tapi gue sudah sangat dibuat terharu karena tulisan gue ada juga yang mau baca, hiks. 

Saat gue cerita soal keheranan ini, Mas Satrio datang dengan petuah-petuahnya yang....sebenarnya oke, tapi dibungkus dengan konyol—garing sih, kalo boleh jujur. Katanya, inilah yang disebut “Filosofi Cicak”.

“Coba kamu lihat cicak. Dia hidup di plafon-plafon. Apakah di plafon ada bakso? Apakah di plafon ada Domino Pizza? Enggak ada kan? Tapi dia tetap bisa makan, hidup bahagia bersama keluarga. Kenapa bisa begitu?”

“Kenapa?” Gue tanya balik ke dia sambil berdecak.

“Karena sudah rezeki dia dari Allah,” ucapnya.

Iya juga. 

Manusia seringkali lupa kalau mereka punya iman. Kalau sudah beriman, harusnya nggak perlu khawatir dengan yang ada di depan. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi, kan?

Dan sesungguhnya gue sadar bahwa masalah gue adalah bukan pada pertimbangan. Tapi pada tahap memilih. Ternyata gue seorang coward yang takut memilih. Takut kalau dari pilihan itu gue salah pilih. Takut kalau gue kalah start. Baru-baru ini gue nonton film American Factory. Di sana ada kalimat yang bikin gue tertohok: Berdiri diam sama dengan mundur. Dan gue mungkin sedang dalam fase kemunduran. 

Tadi sore, video Gary Vee juga menampar gue. Katanya, nggak ada pilihan yang salah. Yang ada, ini semua cuman tentang hidup. Kita cuman butuh memilih. Once we choose and then things go well, that’s great. But when things go to unexpected, adjust.  

Nah, sekarang izinkan gue berbicara dengan diri gue sendiri, 
“Jadi bagaimana? Masih bingung mau milih jalan yang mana? Ingat, selalu ada jalan pintas dan jalan pulang.”

Buat para pembaca blog ini yang lagi struggle tengkar sama diri sendiri, atau lupa bahwa rezeki sudah ada yang ngatur, atau mungkin lagi ngerasain hal yang sama kayak gue,



Selalu ingat filosofi cicak.

Sunday, February 16, 2020

Menaklukkan Test Interview YSEALI – Seleksi Wawancara (#YSEALI Part 3)

7:08 PM 0
Menaklukkan Test Interview YSEALI – Seleksi Wawancara (#YSEALI Part 3)

Ternyata menulis dengan rutin itu seru. Gue jadi merasa nggak ansos-ansos banget karena sesungguhnya gue tiap hari ketemu orang yang itu-itu aja. Menulis jadi bagian dari escape. Dan cukup menghibur. Lah, kok OOT?

Di tulisan kali ini gue akan melanjutkan pembahasan tentang YSEALI yang banyak diminta teman-teman melalui DM instagram. Setelah kemarin berkutat dengan topik seleksi administrasi, kali ini gue akan ngomongin soal test wawancaranya. 


Source: unsplash.com


Kalau nggak salah, dalam 1 atau 2 bulan ke depan, pendaftaran untuk fall semester akan dibuka. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kalian yang mau mencoba daftar beasiswa ini. Persiapkan diri kalian lebih dini biar nggak panik kalau ada apa-apa terjadi.

Sekitar dua minggu setelah deadline pengumpulan formulir, kalian yang lolos ke tahap wawancara akan dihubungi via email sekitar 2 minggu kemudian. Untuk gambaran saja, tanggal 29 Oktober 2019 gue mendapat email pemberitahuan interview, tapi email itu baru gue terima di tanggal 30 Oktober 2019. Dan di tanggal 31 Oktober 2019, gue wawancara.

Wawancara ini nggak akan bertele-tele. Waktu masing-masing orang hanya berkisar 10 menit saja dan wawancaranya dilakukan melalui Skype. Jadi pastikan kalian memiliki koneksi internet ya. Oh iya, sangat tidak disarankan menggunakan ponsel untuk melakukan wawancara melalui skype. Mending kalian gunakan skype via laptop.

Anyway, untuk kelolosan ke tahap interview ini gue sengaja nggak koar-koar ke banyak orang. Trauma masa-masa dulu pas interview YSEALI juga, gue sempat cerita ke bos pas gue magang. Eh, nyebarnya ke satu kantor. Sampai ke kantor-kantor lain, wkwk. Malu karena udah keburu dikagumin banyak orang eh kenyataannya masih ada banyak tantangan lain yang harus dihadapi. Karena sometimes sharing good news is nice, but too much is exaggerating. In most cases, those are just toxic. Ini kata-kata gue dapat dari salah satu blog alumni juga.

PERSIAPAN WAWANCARA

Berkaca dari pengalaman interview di program beasiswa sebelumnya, juga pengalaman yang sama di YSEALI tahun 2018, gue menyusun daftar pertanyaan yang kira-kira keluar saat wawancara. Darimana gue dapat daftar pertanyaan itu?

  • ·    Gue nontonin youtube dan membaca banyak blog alumni yang membahas soal interview. Kalau beruntung dan kebetulan nemu, kalian bisa baca beberapa daftar pertanyaan yang ditanyakan oleh interviewer dalam tulisan para alumni tersebut. 
  •    Gue baca ulang esai dan minta orang lain menanyakan hal-hal yang tidak terjawab dari esai tersebut.
  • ·       Gue tanya-tanya ke alumni atau ke orang-orang yang pernah punya pengalaman interview di program ini supaya mendapat gambaran tentang pertanyaan-pertanyaan yang mereka dapat.


Pertanyaan-pertanyaan itu gue kumpulin dan gue persiapkan jawabannya satu-persatu. Jawaban yang kalian persiapkan jangan terlalu umum/normatif/ngawang-ngawang, tapi harus aplikatif dan spesifik. Misalnya gini:

Why makes you applying in YSEALI?

Contoh jawaban yang normatif kayak gini:

“YSEALI is an international youth program where I can enrich my network, I can sharpen my leadership, I can improve my skill by learning in the most powerful country in the world,....”




Percaya deh. Jawaban kayak gini mungkin udah pernah didengar sama interviewer selama ribuan kali. Saran gue, siapkan jawaban yang spesifik. Ini contoh jawaban gue:

Firstly, YSEALI provides intensive training in the U.S university / college and one of the focus is social entrepreneurship and economic development, which the field that I have been working on all this time. YSEALI will support my long term goal to increase the quality of life of people with disabilities by empowering them through entrerpeneurship.

Secondly, I also want to learn social enterpreneurship properly from the understanding of the United States as a forerunner. United States is the country where the term social entrepreneurship was first introduced. The country where the very first organization promoting social entrepreneurship was founded, like Ashoka Foundation. The father of Social Entrepreneurship, Bill Drayton is also came from the US. So there will be no other country better for me to learn about social entrepreneurship besides USA. And there will be no other program has better foundation besides YSEALI which combining two focuses that are leadership and social projects.”

Di jawaban di atas sedikit gue masukkan fakta-fakta yang nyambung tentang U.S.-nya sendiri. Jadi nggak cuman tentang YSEALI aja. Supaya jawaban kalian nggak normatif, perbanyaklah baca  banyak informasi untuk memperkuat jawabanmu. Saran ini bisa digunakan juga untuk kalian yang mau apply beasiswa apapun. Usahakan semua jawaban yang disiapkan juga nggak bertentangan sama isi form pendaftaran, esai, dan apa yang tertulis di surat rekomendasi ya.

HARI-H WAWANCARA

Interview gue terjadwal pada tanggal 31 Oktober 2019 pukul 14.20 WIB. Sejam sebelumnya gue langsung bertandang ke Ruang Perintis buat numpang wifi dan ruangan. Gue mendekam di meeting room sambil kembali baca-baca draft pertanyaan interview dan esai yang udah gue print. Tak lupa juga gue pinjam headset Mas Satrio.

Walaupun interviewnya lewat Skype, gue sarankan kalian well-dressed. Waktu itu gue dandan dikit biar kelihatan segar, nggak pucet. Terus pakai blazer hitam dan pakai kaos Percacita. Kerudung juga nggak lupa buat disetrika rapi.


Pastikan juga untuk menata laptop / komputer sedemikian rupa biar mereka bisa lihat muka kita tanpa halangan, kita juga duduk nyaman dan singkirkan hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasi—silent hape. Saat itu juga gue chat ke akun skype PAS (Public Affairs Section) Surabaya kalau gue udah siap wawancara.

Beberapa saat kemudian ada panggilan masuk ke skype gue. Terlihat ada dua orang wanita, satu orang Indonesia dan satunya bule. Bule yang berbeda sejak terakhir kali gue interview. Mungkin karena beliau sudah rotasi ke negara lain.

Berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang keluar saat gue interview—yang gue ingat aja:

  1. ·         I read on your personal statement that you initiated a project called Percacita. Please tell us about Percacita!
  2. ·         What is your role in Percacita?
  3. ·         How did you heard about YSEALI?
  4. ·         Challenges faces by your social enterprise and how you dealing with that?
  5. ·         Why YSEALI?
  6. ·         What do you want to learn in YSEALI and in the U.S.?
  7. ·         Do you have any questions?


Pertanyaan yang dilontarkan ke gue berhenti di menit ke 7. Mungkin karena gue kasih jawaban yang bisa menghemat waktu. Gimana tuh maksudnya jawaban yang menghemat waktu? Jadi, ketika sebuah pertanyaan dilontarkan, gue nggak cuman menjawab aspek yang ditanyakan. Gue juga menjelaskan yang lain. Contoh, gue sempat ditanya, “Apa role kamu di Percacita?” Gue nggak serta merta menjawab, “Marketing”. Nah, gue menjelaskan tugas-tugas gue juga, stage—atau perkembangan Percacita sedang di tahap apa, serta progress yang sudah dibuat. Si pewawancara kan jadi ngak perlu nanya lagi soal progress dan kawan-kawannya.

Di sisa waktu 3 menit itu, gue dikasih waktu bertanya ke mereka. Apapun tentang program. Saran gue, kalian juga kudu nyiapin beberapa pertanyaan. Jangan jawab enggak. Pertanyaan kayak gini tuh bisa menunjukkan kalian tuh sebetulnya penasaran nggak sih atau seberapa antusiasnya kalian ikut program ini.



Di pertanyaan ini gue bertanya beberapa pertanyaan yang nggak umum. Mungkin biasanya orang-orang akan nanya kapan pengumumannya, kapan berangkatnya. Tapi entah kenapa gue nggak ingin nanya itu. Bukannya mereka yang nanya itu salah ya. Ini berdasarkan pendapat dan pengalaman gue aja. Kan gue udah pernah ditolak tuh, jadi ini saatnya gue mengulik informasi yang lebih dari sekadar kapan pengumumannya. Siapa tau kalau gue ditolak lagi kan gue jadi bisa belajar dari perspektif mereka. Ilmunya bisa berguna buat gue apply di kesempatan selanjutnya atau di beasiswa lainnya.

Ini yang gue tanyain waktu itu.


  • ·         Where the host university on this term will be located?
  • ·         I also wondering about this. I am sure that the candidates that you invited to the interview are meet your criteria. But, I wonder what makes the other stand out the most than the other candidates during the interview process? What is the main consideration for you to choose one or two candidates to get accepted to the program?


Di pertanyaan kedua ini kita jadi ngobrol banyak. Mereka jelasin apa aja yang mereka nilai dari seorang kandidat. Hal paling utama yang disebutkan dari beberapa hal lainnya adalah mereka mencari kandidat yang tau jelas mau ngapain, mau belajar apa, ekspektasinya apa. Jadi, buat YSEALI itu adalah masukan yang progresif juga.

Karena waktunya udah mau 10 menit, panggilan harus berakhir. Tanpa gue tau pengumuman selanjutnya kapan, wkwk. Akhirnya berakhirlah sudah wawancara sore itu dengan ketidakpastian.

TAHAP SELANJUTNYA

Setelah itu gue mulai menyibukkan diri dengan kegiatan di Percacita atau apapun itu. Gue nggak mau menghabiskan waktu dengan ketidakpastian, huhu. Dan pada saat training di Percacita, gue iseng buka email. Disitulah semesta kasih gue jawaban.

2 Desember 2020, ada email masuk dari YSEALI yang meminta gue untuk kirim scanned passport. Di email itu ada satu kalimat di bold: Again, we are still waiting for confirmation, so please do NOT take this as the final result. Walaupun begitu gue udah di-cie-cie-in sama Mas Satrio yang isengnya nggak ketulungan.

Tanggal 19 Desember 2020, pasca gue kirim scanned passport, gue dapat email lagi dari YSEALI yang menyatakan bahwa kantor Washington DC udah kasih lampu hijau. Itu berarti tanggal dan tempat kita belajar juga udah dipastikan. Dari ketiga tema, civic engagement, environmental issues and natural resource management, dan social entrepreneurship and economic development; kita berangkat di waktu dan ke universitas yang berbeda. Gue sendiri akan ditempatkan di University of Connecticut. 


Tanggal 15 Januari 2020, ada email masuk dari universitas yang akan gue tempati. Mereka kirim official letter of acceptance serta beberapa material yang bisa dibaca. Dari sejak hari itu, mulai banyak email berdatangan tentang assistance untuk bikin akun di uni, ngurus visa, info tiket, dll.

KEY TAKEAWAYS

Buat teman-teman yang tertarik untuk ikut program ini atau program sejenisnya, gue ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Beberapa hal ini juga yang disampaikan oleh pihak YSEALI waktu kami—yang terpilih—berkunjung ke Kantor Konsulat A.S beberapa hari lalu.


  • ·         Jangan pernah jadikan sebuah program sebagai tujuan, tapi sebagai batu loncatan

Kata seseorang dari pihak YSEALI, dia pribadi geram melihat banyak orang yang menjadikan sebuah program sebagai tujuan. Karena setelah program banyak yang nggak tau mau ngapain. Alhasil, kerjaannya cuman lompat dari konferensi satu ke konferensi lain. Tanpa bikin atau punya kontribusi apapun. Padahal harusnya sebuah program bisa membantu kita untuk meng-elevate progress yang dilakukan sekarang. Atau setidaknya membantu menjernihkan atau meluruskan visi ke depan. Bukan cuman yang penting ke luar negeri, update status.


  • ·         Bukan programnya yang penting, tapi dampak yang dibuat setelah ikut program

Hampir sama seperti poin sebelumnya, penerima beasiswa tuh sama dengan kayak ngutang ke pemberi beasiswa lho. Ada beban yang harus ditanggung. Ada kepercayaan yang harus dipertaruhkan. Ada kesempatan yang harus diperjuangkan. Jadi bukannya kalau dapat beasiswa lantas bisa berbangga diri tanpa mikirain habis program selesai mau ngapain. Terlebih lagi, ekspektasi orang lain pasti langsung jadi naik banget begitu seseorang dapat kesempatan yang jarang didapat orang banyak, kan? Berat coy. 


  • ·         Di luar sana banyak orang keren. Faktor terpilihnya kamu ada hubungannya dengan keberuntungan.

Kata seseorang di YSEALI, jangan duluan berbangga hati jadi yang paling keren karena diterima dari ratusan pendaftar dari seluruh Indonesia. Faktanya, banyak orang keren di luar sana. Terpilihnya kita juga ada faktor keberuntungannya. Hehe. Kalau tentang poin ini sih gue udah 100% ngalamin sendiri. Gimana mungkin gue baru bisa lolos di kali ketiga, sedangkan orang-orang lain terpilih langsung di kali pertama mereka? Udah pasti ini tentang keberuntungan sih--juga tentang hal baik di waktu yang tepat.

Sebagai penutup, gue cuman mau bilang you are bigger than the program!
Good luck!!

Friday, February 7, 2020

Kiat Sukses Lolos YSEALI, Beasiswa ke Amerika Serikat – Seleksi Administratif (#YSEALI Part 2)

8:24 PM 0
Kiat Sukses Lolos YSEALI, Beasiswa ke Amerika Serikat – Seleksi Administratif (#YSEALI Part 2)
Bulan Desember 2019, gue mendapat kabar baik kalau percobaan mendaftar ke sebuah beasiswa yang akan kembali membawa gue ke Amerika Serikat—yang sudah sebanyak 3x percobaan—akhirnya mendapat sinyal baik. Gue kenal beasiswa ini dari tahun 2016. Baru coba daftar di tahun 2017 dan gue gagal bahkan di tahap administrasi. Lalu, tahun 2018 gue coba daftar lagi dan lolos ke tahap interview, tapi gagal diterima. Di tahun 2019 gue coba lagi untuk kesekian kali.

Oh iya gue cuma mau berbagi ya. Nggak ada niatan lain. Karena gue pernah dibilang pamer/sombong/lain-lain. Gue pribadi sih percaya kalau tulisan ini akan bermanfaat untuk yang memang membutuhkan.

Sebenarnya gue agak takut mau berbagi, karena visa juga belum ada di tangan. Masih dalam tahap pengurusan. Kata seseorang jangan buru-buru menulis kalau visa belum dibawa. Tapi, membaca kata “CONGRATULATIONS” itu saja sudah membuat gue membulatkan tekad untuk membagikan informasi tentang beasiswa ini. Mau bayar hutang. Karena sepanjang perjalanan gue ditemani tulisan-tulisan di blog para alumni yang memudahkan perjalanan gue sampai hari ini. Kalau ada apa-apa yang di luar kuasa manusia ke depan, ya sudah kita nikmati.  

Selain itu, gue kepepet jadwal konten karena ada banyak yang mau gue share, jadi topiknya gantian, wkwk. Oh iya, buat yang belum baca Part 1, boleh klik disini kakaa~~


BERKENALAN DENGAN YSEALI

YSEALI atau Young South East Asia Leaders Initiative adalah program kepemudaan yang diselenggarakan dan dibiayai penuh oleh Department of State, Pemerintah Amerika Serikat dengan tujuan meningkatkan kapasitas kepemimpinan dan memperkuat jaringan para pemuda di Asia Tenggara. Termasuk mengasah kemampuan sebagai warga sipil, dan mengajak pemuda-pemuda tersebut untuk saling bekerja sama memecahkan masalah di daerah masing-masing. YSEALI ini pertama kali muncul pada tahun 2013, waktu itu masih di bawah kepemimpinan former Presiden Barrack Obama dan beliau yang menginisiasi program ini. Fokus program ini ada beberapa, yaitu civic engagement, sustainable development, education, dan economic growth.

Jenis programnya juga beragam, lho:
  • ·         Professonal Fellowship ke Amerika Serikat
  • ·         Academic Fellowship ke Amerika Serikat
  • ·         Regional Workshop yang biasanya bertempat di negara-negara Asia Tenggara
  • ·         Grant Funding atau YSEALI Seeds for the Future

Gue akan jelaskan khusus untuk YSEALI Academic Fellowship ya karena beasiswa inilah yang gue daftar. Academic Fellowship khusus untuk pemuda berumur 18-25 tahun. So, buat teman-temanku yang budiman, walaupun kalian udah ngantor sekalipun, kalian tetep bisa daftar beasiswa ini kok. Sedangkan kalau Professional Fellowship khusus mereka yang berumur 25-35 tahun. Setiap tahunnya, Acedemic Fellowship buka pendaftaran dua kali untuk Spring semester dan Fall semester. Di program ini nanti, gue akan gabung dengan pemuda terpilih lainnya dari 10 negara ASEAN & Timor Leste.

source: unsplash.com

Program ini berjalan selama 5 minggu. Disana gue akan kuliah selama 4 minggu di salah satu universitas yang ditunjuk dan 1 minggu waktu untuk field trip ke tempat-tempat bersejarah dan ikonik di Amerika Serikat. Universitas ini menyesuaikan dengan salah satu dari tiga topik yang kalian pilih, yaitu civic engagement, environment issues and natural resources management, entrepreneurship and sustainable economic development. Selain merasakan perkuliahan singkat disana, gue juga akan melakukan local community service, termasuk juga memberi peluang gue untuk menjalin hubungan dengan policymakers, perwakilan pemerintahan, dan pelaku bisnis.

Semua akomodasi dari sebelum berangkat hingga kita pulang nanti akan dibiayai oleh Pemerintah Amerika Serikat. Pokoknya FULLY FUNDED! Oh iya, untuk mereka yang ikut Spring akan berangkat di bulan Februari / Maret dan untuk fall semester akan berangkat sekitar bulan Oktober. Biasanya untuk spring semester, mereka akan ngerasain salju terakhir—tapi tergantung daerahnya.



Penempatan daerahnya juga tergantung dari tema yang dipilih. Biasanya untuk entrepreneurship, mereka akan ditempatkan di Connecticut atau Rhode Island. Untuk environment akan ditempatkan di Hawaii dan untuk civic engagement akan ditempatkan di Montana / Nebraska / Arizona. Setiap tempat memang menjadi pusat kajian masing-masing tema sih, jadi disesuaikan. Gue akan cerita lagi tentang manfaat, pengalaman, dan apa saja yang gue dapat dari beasiswa ini, begitu gue udah ngalamin. Takut saru kalau cerita sekarang, hehe.

BEASISWA INI COCOK UNTUK SIAPA?

Sebagai seorang pelamar beasiswa, kita harus kaji ulang apakah beasiswa itu tepat untuk kita. Jangan sekali-kali sengaja menyesuaikan diri untuk sebuah beasiswa kalau berujung jadi nggak tulus sama apa yang dilakukan. Untuk YSEALI mereka mengklaim mencari pelamar yang:
  • ·         Memiliki jiwa kepemimpinan
  • ·         Memiliki minat dan pengetahuan di salah satu atau beberapa tema yang disediakan
  • ·         Memiliki komitmen atau minat di pelayanan masyarakat, volunterisme, atau mentorship
  • ·         Berkomitmen untuk mengaplikasikan apa yang telah diterima di Amerika Serikat untuk daerah atau komunitasnya ketika kembali ke negara asal.


PROSES PENDAFTARAN

Ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Tapi dijamin nggak ribet sama sekali. Gue udah breakdown beberapa hal itu di bawah ini.

·         Formulir elektronik

Sejak gue daftar tahun 2018 lalu, formulir pendaftaran mereka sudah menggunakan Google form. Walaupun cara mendaftarnya berubah, isi dari formulir itu tetap sama dengan versi word yang gue isi di tahun 2017. Makanya, gue taruh link formulirnya di akhir tulisan supaya kalian bisa lihat kira-kira isi formulirnya seperti apa.


·         Surat rekomendasi

Mintalah surat rekomendasi pada orang yang mengerti kamu dan bisa bertanggung jawab dengan apa yang tertulis disana. Entah itu dosen atau atasan tempat kamu bekerja. Menurut gue penting buat menuliskan gimana kita di sekolah, seperti apa kita secara kepribadian, dan apa saja yang kita sudah kerjakan—sesuaikan dengan hal-hal apa saja yang jadi concern program.

Gue dapat surat rekomendasi dari Wakil Dekan I di fakultas. Kebetulan beliau yang mengantar gue waktu lomba di Amerika Serikat 2 tahun lalu. Di surat rekomendasi itu, tertulis gue orangnya seperti apa, beberapa pengalaman sosial yang gue lakukan, pengalaman gue jadi pemimpin, proyek sosial yang pernah gue inisiasi juga. Kalau bisa, semua hal yang jadi concern diramu di surat rekomendasi dan esai. Di punya gue, gue pengen menonjolkan diri gue yang memiliki minat dan komitmen di pelayanan masyarakat.

·         Personal Statement 250 kata

Please discuss
  • your background and interest in the program
  • what you would hope to get out of it
  • why you would be a good candidate for participation


Nah, jadi ada 3 hal fokus utama kita disini untuk jadi bahan elaborasi ke dalam esai yang akan ditulis. Ingat ya! Maksimal hanya 250 kata. Di personal statement ini kayak kita jual diri—positif ya. Gimana caranya merepresentasikan diri kita hanya dalam 250 kata.

Gue bagi esai gue jadi tiga. Masa lalu (latar belakang gue melakukan apa yang gue lakukan sekarang), masa kini (kenapa gue adalah kandidat yang tepat untuk beasiswa ini), dan masa depan (apa yang gue inginkan dari program ini). Esai ini gue sambungin juga dengan tema yang gue pilih. Karena gue pilih entrepreneurship & sustainable economic development, gue bahas banyak soal ini. 

Masa lalu: 
I have been gravitating towards entrepreneurship for essentially as long as I can remember. It motivated me to lead 17 committees in Entrepreneurship and Innovation Laboratory to deliver insightful entrepreneurial education by conducting 23 classes, collaborating with 13 companies, and engaging more than 700 students (see:eilab.fia.ub.ac.id). As Student Director, I encourage other students in the faculty to build startup that have social impact for the community.

Di awal esai gue ceritain minat gue di kewirausahaan itu gimana dan usaha gue menyalurkan minat gue itu dengan cara yang bagaimana. Sekali menyelam, gue juga ceritain pengalaman gue saat jadi Student Director di Ei Lab yang juga berarti pengalaman gue sebagai pemimpin. Gue sebutkan sedikit apa saja yang dicapai oleh gue dan tim selama masa jabatan kami.



Masa kini: 
When doing a project called “Smart Diffable” in the laboratory, I realized that people with disabilities have potential but there are lack of opportunity and accessibility. Hence, promoting inclusive working opportunity for them is now becoming my concern.....

Disini gue cerita soal latar belakang gue melakukan inisiasi yang gue jalani sekarang untuk membangun komunitas sekitar. Setelah itu, gue ceritakan tentang salah satu proyek sosial gue yang bernama Percacita (see: Instagram; percacita.com). Kalau ada yang penasaran sama versi lengkap esainya, silahkan request personal ke email yaaa. Gue belum percaya diri untuk share di kamar publik kayak gini—gak tau lagi kalau suatu saat tulisan ini gue revisi pake versi lengkap esainya. 

Masa depan: 
By following YSEALI, I would be very enthusiastic to learn and collaborate with individuals from internationally-diverse background. Moreover, YSEALI would become an ideal setting to learn more about sustainable economic development and address social issues through entrepreneurial approaches properly. It will increasingly motivate me to share and apply the knowledge to expand impactful actions that my startup and laboratory has created.

Penutupnya gue bikin dengan memberikan apa yang gue ekspektasikan ke YSEALI dan apa yang gue lakukan ketika kembali ke Indonesia. Hal ini gue elaborasi dari poin terakhir di apa saja hal yang mereka cari dari pelamar. Berkomitmen untuk mengaplikasikan apa yang telah diterima di Amerika Serikat untuk daerah atau komunitasnya ketika kembali ke negara asal.

Untuk memperkaya diri dengan contoh-contoh esai lainnya, kalian bisa cari di Google esai-esai yang ditulis alumni beasiswa ini.





Dari kegagalan gue di tahap administrasi tahun 2017 dulu, gue jadi bisa menyimpulkan beberapa hal. Pertama, luruskan niat. Mau ikut beasiswa apapun, tujuannya apa? Kedua, nggak perlu merepresentasikan diri sendiri dengan branding yang muluk-muluk, yang penting konkrit. Gue juga belajar ini dari temen gue yang lolos LPDP (hai, Aik!). Katanya, nggak perlu janjiin sesuatu yang muluk-muluk, tapi mulai dari yang paling realistis aja. Nggak perlu yang terlalu tinggi atau terlalu jauh, eh tapi ujungnya nggak logis atau nggak tercapai. Apapun itu, beasiswa sama dengan punya utang kontribusi, tauuu. Jadi nggak bisa santai-santai juga.

Start small but progressive.

Tanggal 18 Oktober 2019 adalah deadline pendaftaran YSEALI Spring 2020. Tanggal 29 Oktober 2019 gue mendapat email pemberitahuan interview, tapi email itu baru gue terima di tanggal 30 Oktober 2019. Jadi sekitar 2 minggu berselang sejak deadline pendaftaran.

Di tahap wawancara, kita akan diberi waktu 10 menit untuk interview. Di waktu tersebut pula biasanya mereka memberi kesempatan kita untuk bertanya ke interviewer. Untuk tahap wawancara, gue akan bikin tulisan terpisah di part selanjutnya. Nantikan!

Dan buat yang mau daftar beasiswanya, siapkan diri mulai dari sekarang. Pelajari lebih lanjut beasiswa ini seperti apa. Karena kalau masih sama seperti tahun sebelumnya, dalam beberapa bulan (mungkin satu atau dua), pendaftaran untuk fall semester akan dibuka.

Lampiran:
Isi Formulir YSEALI Academic Fellowship
Contoh surat rekomendasi dan esai lengkap,
silahkan request via email ke ekanandapna(at)gmail.com

Apakah tulisan ini bermanfaat? Atau kurang menjawab rasa penasaranmu?
Tinggalkan komentar di bawah ini ya!

Tuesday, February 4, 2020

Banyak Tahu Gara-Gara Test TOEFL – Part 2

12:12 PM 0
Banyak Tahu Gara-Gara Test TOEFL – Part 2

Halo! Di tulisan kali ini gue akan membahas lanjutan dari topik tentang test TOEFL iBT yang memang kemarin sengaja dibagi jadi 2 part. Ternyata gue nulis panjang banget sepanjang alasan doi (plis, jayus). Oke, jadi langsung aja kita lanjut ke pembahasannya!


Source: Unsplash.com


Terakhir kali gue cerita kalau H-1 jadwal yang seharusnya gue test—11 Januari 2020, gue nggak nemu jadwal yang terekam di website ETS. Panik, dong pastinya karena gue juga nggak yakin kalau udah bikin kesalahan. Gue obrak-abrik email, website, dan segala sumber yang gue tau untuk nyari alasan kenapa jadwal gue nggak tertera. Memang ya, manusia itu suka nggak mengakui kesalahan sendiri. Dibantu Mas Satrio, manusia paling rasional yang gue kenal, gue mengerti ternyata diri ini belum klik tombol “checkout” sebulan lalu saat mendaftar. Itu sama kayak kita ngerjain tugas semalaman dengan penuh usaha, tapi lupa ngumpulin.

Alhasil gue daftar lagi untuk jadwal test tiga minggu setelahnya, karena saat gue daftar ulang, waktu test selanjutnya udah kurang dari H-7 dan gue nggak mau bayar late fee. Berhubung waktu langganan di Best My Test juga udah habis dan nanggung juga kalau mau langganan lagi untuk membayar kesalahan bodoh yang gue lakukan, gue belajar seadanya sambil kembali menjalani rutinitas bantu Satrio ngurus Percacita. Persiapan jadi semakin sulit dilakukan karena gue harus bagi waktu dengan ini itu—atau ini cuman alasan gue aja karena nggak disiplin belajarnya.

Dan nggak terasa, tibalah hari test yang terus-terusan tertunda itu.


HAL-HAL SUPER PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN SAAT TEST

Keluar dari ruangan test, gue betul-betul pasrah ke Yang Maha Tau karena ada beberapa hal yang berjalan jauh lebih baik dari yang gue kira, ada hal yang betul-betul kacau. Nih, gue coba rangkum apa saja yang harus diperhatikan saat test.

1.       Persiapan Mental

Selalu, yang namanya ujian, apapun itu, mental harus siap siaga. Harapannya adalah ketika ada hal-hal yang nggak berjalan baik, kita tetap bisa menjalankan ujiannya dengan sebaik-baiknya. Misalnya dengan nggak terlambat ketika datang ke tempat ujian. Walaupun berbeda dengan test TOEFL biasanya yang kita bakal mulai bareng-bareng dan berakhir bareng-bareng, di iBT, waktu yang tertera untuk masing-masing orang ada di komputer. Makanya, nggak perlu heran kalau saat kita masih ngerjakan listening, ada orang yang berisik karena dia lagi speaking. Bisa jadi dia mulai lebih duluan daripada kita.

Banyak orang yang menyarankan untuk mulai lebih lambat dari orang lain. Jadi nanti waktu mereka udah kelar speaking, kita baru speaking tanpa ada distraksi. Selain itu kita juga bisa mencuri dengar tentang kira-kira apa yang ditanyakan sama soal dari jawaban orang yang ngomong-ngomong sendiri itu. Tapi gue pribadi kalau bisa ngulang waktu, akan berusaha untuk mulai duluan, sebelum orang-orang mulai ngomong. Karena gue memegang prinsip “cepet mulai, cepet selesai. Hasilnya pasrah aja”.

2.       Kuasai Tiap Jenis Soal dan Strategi Dengan Baik

Di TOEFL iBT itu biasanya kita mengenal yang namanya template. Terutama untuk menjawab pertanyaan di sesi speaking dan writing. Waktu latihan, gue juga berusaha menguasai template itu, maunya kayak gimana, intinya kayak gimana. Jadi biar kalau terpaksa harus improvisasi, gue tau ngarahin jawabannya kemana. Template ini membantu banget sih buat gue. Kalian bisa cari di internet, ada begitu banyak template jawaban yang tersedia. Tapi jangan berharap banyak ya, karena template ini cuman membantu kita ngarahin jawabannya mau kemana, bukan pada kontennya akan seperti apa.

Penting juga untuk menguasai tiap-tiap jenis soal. Misalnya di reading, kalau pertanyaan kesimpulan berarti harus pilih 3 jawaban yang paling relevan yang menggambarkan keseluruhan bacaan. Kalau di writing, di soal integrated essay harus langsung paham kalau yang harus kita lakukan adalah membandingkan opini bacaan dengan opini profesor di kelas dengan topik yang sama. Cara untuk menguasai itu semua adalah dengan perbanyak latihan supaya terbiasa dengan jenis-jenis soalnya. Menurut gue penting juga untuk menguasai interface dari soal-soal iBT itu sendiri, seperti dimana letak waktu berada, dimana tombol volume, dimana tombol continue, dll.

3.       Lihat Jam Berkali-Kali

Semua waktu yang diperlukan untuk mengerjakan setiap komponen sudah tertera di komputer masing-masing. Dan itu semua kita yang kendalikan. Nggak seperti TOEFL ITP/PBT yang nggak memperbolehkan kita untuk balik ke soal-soal sebelumnya, di iBT kita bebas balik ke soal-soal sebelumnya selama waktunya masih berjalan. Kalau sudah selesai, testnya akan lanjut ke sesi selanjutnya secara otomatis. Makanya, penting untuk selalu cek waktu dan memprediksi kira-kira harus berapa menit mengerjakan sisa soal yang belum dijawab. Kalau bisa sih sisain waktu untuk mengecek kembali soal yang belum dijawab/yang masih ragu-ragu.

4.       Pakai Jaket dan Bawa Perbekalan yang Cukup

Ruangan test bisa aja dingin dan hal-hal yang sepele kayak gini bisa bikin kita jadi nggak konsentrasi. Jadi persiapkan segala kemungkinan. Lalu, jangan sampai kebelet ke toilet saat test karena waktu terus berjalan. Kemarin gue cuman minum beberapa teguk sebelum test—kebiasaan. Alhasil, gue ke kamar mandi beberapa kali dan cukup khawatir kalau saat test gue jadi nggak konsen gara-gara kebelet. Untungnya gue nggak kebelet, hehe.

Waktu istirahat yang diberikan adalah 10 menit. Tapi akan jadi ide buruk kalau kalian nekad makan siang di waktu yang sedikit itu. Paling aman adalah makan snack. Jadi saran gue, bawalah snack yang kira-kira nggak mengganggu digestion system—nggak bikin sakit perut, nggak bikin terlalu kenyang.



KEY TAKEAWAYS / MANFAAT YANG (TERNYATA) DIDAPAT DARI TEST

Berwawasan!

Kayaknya satu kata itu aja udah cukup untuk menggambarkan manfaat dari ngambil test ini deh buat gue. Jujur, gue kayak bisa mencerna banyak hal yang nggak terduga dan ternyata seru. Misalnya gue dapet bacaan soal Suku Inupiat di Alaska. Mana pernah gue tahu sebelumnya kalau cuman suku itu yang secara legal boleh memburu bowhead whale, padahal binatang ini adalah binatang yang dilindungi. Dengan catatan maksimal 3 ekor per tahun. Mereka butuh makanan untuk bisa bertahan hidup di musim dingin. Masalahnya di Alaska sana kan semusim-musim panasnya ya tetep dingin. Sampai ada fenomena hari tanpa sinar matahari atau dikenal dengan nama Malam Kutub di wilayah Kutub Utara di kota Utqiagvik, Alaska. Kota ini diselimuti kegelapan selama 65 hari tanpa sinar matahari.


Source: Unsplash.com

Tanpa mengalami proses pembelajaran ini gue nggak akan pernah belajar tentang siapa itu Severn Barrage, gimana sejarah ditemukannya Iron, gimana ombak bergerak, asal usul mata kok bisa ada pada makhluk hidup padahal dulunya di Bumi ini semua makhluk hidupnya bersel satu dan nggak punya mata, atau soal perdebatan sebenarnya dinosaurus itu endoterm kayak manusia apa nggak sih? Gue juga nggak akan pernah peduli soal sejarah Blue Jeans yang sehari-hari gue pakai, kalau gue nggak ngerjain soal-soal TOEFL ini.

Seru.

Gue sangat menikmati perjalanan ini. Gue jadi paham kalau kita memang nggak perlu tau semua hal, tapi tau cukup banyak hal ternyata menyenangkan. Pernah gue nemu suatu pernyataan yang menurut gue ada benarnya. Kurang lebih begini,

"Manusia itu harus membaca fiksi dan non fiksi dengan seimbang; agar pembahasan antar manusia tidak hanya melibatkan pemikiran yang dangkal atau sebaliknya hanya orasi serius tanpa perasaan."
Cukup sekian yang bisa gue bagikan, gue akan update lagi soal TOEFL iBT seperti template seperti apa yang gue pakai, alokasi waktu belajar, dll yang lebih detail kalau pembaca tulisan ini mencapai target. Cihuyy!

Jangan lupa untuk baca part satunya disini :


Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tinggalkan komentar di bawah ya!

Baca Juga Ini Ya!