Pengemis di Pasar - Lagi Monolog

Monday, April 13, 2020

Pengemis di Pasar



Dalam sepekan terakhir aku dan istriku Yuni sibuk keluar masuk pasar. Saat ia berkeliling mengunjungi penjual-penjual favoritnya, biasanya aku hanya menghabiskan waktu di halaman kios yang teduh dengan mengedar pandang ke sekeliling. Ada beberapa penjaja makanan berkutat di kerumunan pelanggan menawarkan dagangannya. Kutatapi kerumunan yang berisik itu, tetap merasa tak terhibur. Membosankan, namun aku sudah terlanjur berjanji seumur hidup akan menjaga istriku Yuni dalam keadaan apapun.


Cinta memang mampu melumpuhkan logika, kata yang muda. Aku tidak setuju. Nyatanya aku memang sudah lumpuh sejak lahir, bahkan jauh sebelum mengenal cintaku pada Yuni.

Aku duduk di undak-undakan karena tak menemukan tempat duduk. Kutepikan alat bantu jalanku agar tidak menghalangi pengunjung pasar. Kulepas topi merah yang sudah pudar warnanya, hadiah dari Yuni, mengibasnya di dekat kepala, berharap topi iku mampu melegakan kepalaku yang kepanasan akibat terik.

Aku bersungut menunggu Yuni, mengingat perdebatan kecil kami pagi tadi tentang apakah harus ke pasar lebih dahulu atau mengambil kardus terlebih dahulu. Kalau saja Yuni minta diantar ke pasar pagi-pagi tentu kulitku tak akan semakin legam terbakar matahari. Tapi tak apa, demi istri tercinta.

Belum lama aku bersungut sendirian, beberapa buah koin receh dilempar seseorang mengenai ujung sandalku. Aku menengadah. Seorang ibu-ibu berbaju daster warna hijau menutup dompetnya seusai melempar koinnya padaku.

Buru-buru aku menghampirinya. Ibu itu menengadah, kebingungan menatapku yang tak kalah bingung. Ia membuka dompetnya kembali dan mengeluarkan uang dua ribu.

“Ambil saja, Pak. Untuk beli makan,” ucapnya.

DEG.

Kini aku tau maksud Ibu itu. Kutatap tajam tepat di matanya, walaupun ia akhirnya melengos. Uang lima puluh ribuan keluar dari dompetku, sedang dua ribu darinya kusimpan. Ia kembali melihatku dengan bingung.

“Apakah saya terlihat sedang mengemis? Jangan bilang karena Ibu melihat kaki saya?”

“Ah, ini untuk Ibu. Uang kembaliannya.” Kusodorkan uang lima puluh ribu, balasan atas budi baiknya.

“Dan ini. Siapa tau ibu butuh catering untuk arisan.”

Sebuah kartu nama kuselipkan di sela jari-jarinya. Disana tertera nama usaha kateringku dan Yuni, lengkap dengan alamat dan nomor telepon. Aku berlalu sambil membawa tongkat jalan yang kujepit di ketiak, menjemput Yuni istriku tercinta. Ia pasti sedang mengomel. Kesulitan membawa bahan-bahan masakan yang banyak untuk 400 pesanan nasi kotak akhir minggu nanti dengan jari tangan kirinya yang hanya berjumlah dua.

No comments:

Post a Comment

Baca Juga Ini Ya!