2019 Mau Ngapain? - Lagi Monolog

Monday, December 31, 2018

2019 Mau Ngapain?

Hari ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, timeline gue dipenuhi sama kilas balik tahun 2018 para penghuni dunia maya. Kadang hal ini bisa jadi misleading untuk sekumpulan orang. Seperti potensi comparing their life to another yang akhirnya bisa bikin mereka lupa mencintai diri sendiri.

Melakukan kilas balik tentang apa yang kita lakukan selama setahun gue maknai sebagai salah satu cara mengevaluasi diri, sebagai langkah menuju 2019 yang lebih baik dan produktif. Hal ini bisa jadi pemantik buat gue berhenti lihat sekeliling dan mulai mengapresiasi diri. Ah satu lagi. Tentunya meresapi kembali apa yang gue lalui dalam setahun ini juga membantu gue untuk mengingat bahwa rasa syukur itu perlu.

Maybe some of you have already known that I am an opportunist. 

Tahun 2018 ini gue manfaatin untuk membuat pintu-pintu yang ada di depan gue untuk nemuin pintu mana yang lead me to success. Begitulah gue+idealisme diri ini memulai tahun 2018.

__________________
Format tulisan ini terinspirasi oleh blog temen gue, Chiki. Kalian bisa baca kisahnya disini.
Hehe
__________________

Bulan Januari gue manfaatkan kembali untuk daftar program inkubasi leadership, MCW Young Leader Access Program. Kali ini gue bawa konsep startup gue, Melijo. Tahun 2017, di program yang sama, gue lolos ke tahap interview. Namun sayang, gue nggak bisa lolos programnya. Lebih sayang lagi, tahun ini gue sama sekali nggak lolos ke interview. Walaupun gue kecewa berat dan ngerasa diri ini nggak punya kualifikasi, dengan sedikitnya harapan di dalam diri, gue yakin Allah punya rencana yang lebih baik.


Di bulan ini pula, gue dapet kesempatan untuk jadi moderator dan mentor di Youth Entrepreneurship Seminar 2018. Seminar ini merupakan salah satu kegiatan di rangkaian Peoplepreneur Project yang diinisiasi oleh AIESEC. Seneng banget bisa belajar dari forum dan panelis yang kece-kece.

Februari gue lalui dengan ngurus application magang di U.S. Embassy. Persyaratannya simpel. Simpel menurut kamus gue dalam konteks ini adalah tanpa proposal. Karena gue paling males sama birokrasi yang muter-muter. Senengnya, walaupun gue magang di kantor pemerintahan, mereka nggak neko-neko minta syarat ini itu. Walaupun proses seleksinya emang panjang dan banyak.




Selain itu nggak nyangka di bulan ini, gue bisa ketemu lagi sama temen lama gue. Kami kenal satu sama lain dari project yang gue lead saat itu, Enlighten the Future. Sebagain dari mereka udah gue kenal sejak tahun 2016. Waktu itu kita ngobrol seru banget. Mulai dari soal wajib militer, ngomongin pemerintah Australia yang ngelarang warganya yang memanfaatkan lahan kosong, untuk keperluan apapun termasuk keperluan publik, sampai kesulitan Rita (nama salah satu temen gue) buat ke Indonesia karena konflik teritorial antara China, Hongkong, dan Taiwan. Dari pertemuan itu gue amazed banget sama cerita mereka. Hingga gue dan Kak Nisa bikin suatu kesimpulan bahwa suatu hari nanti kita juga harus bisa "sowan" ke temen-temen lama kita yang ada di Ausie, Jepang, or negara mana pun mereka berada

Di bulan Maret, kepengurusan Ei Lab tahun 2017/2018 dinyatakan selesai. Alhamdulillah. Selesainya kepengurusan ini menandakan bahwa kita harus move on dari Ei Lab. Move on dari orang-orangnya, kerjaannya, projectnya, dan tempatnya (kita pindah ke Gedung E, hehe). Gue bersyukur bisa dipertemukan dengan orang-orang dan environment yang banyak membawa dampak positif di tahun 2018 gue. Mulai dari gue yang udah berani speak up, ikut lomba, belajar beyond my limits, dan dipertemukan dengan 'seseorang'.


Selain itu, di bulan ini pula gue dinyatakan lolos tahap awal seleksi magang di U.S. Embassy. Namun, proses ini masih belum di ujung cerita. Gue masih harus ngirim beberapa berkas penguat yang mereka minta.

Selanjutnya gue kembali lagi menghantam limit gue dengan ikut kompetisi se-Asia Tenggara di bulan April . Selama 2 tahun jadi mahasiswa, gue cuma sekedar tau aja soal kompetisi ini tanpa ekspektasi bakal ikut. Gue nggak ngerasa se-capable itu buat berdiri di panggungnya yang super gede dan cangcingcong presentasi pake Bahasa Inggris ngejelasin gimana startup gue bekerja. But, seseorang ngedorong gue untuk coba kesempatan, apapun itu, pasti baik buat development diri ini. Oh yes, finally gue berdiri di panggungnya yang gede dan megah. Setelah itu gue nangis karena performance gue nggak seperti yang gue harapkan karena masalah teknis.


Tapi, disitulah kuasa Allah bekerja. Ternyata gue nggak perlu menjadi sempurna untuk bisa mencapai sesuatu. Alhamdulillah tim Melijo mendapat predikat Juara 1 lengkap dengan golden ticket-nya ke Amerika Serikat untuk berkompetisi langsung di slot Kuarter Final. Masya Allah.

Mei adalah bulan dimana gue mengisi kembali lembar paspor gue. Bulan ini gue bisa merangkai kelanjutan petualangan gue dalam mengubah dunia (bersama hashtag #ekanandapnachangetheworld, lol). Saat itu gue harus mengarungi perjalanan udara kurang lebih selama 20 jam! Transit di berbagai kota dan negara membuat gue menyadari bahwa Islam itu begitu fleksibel namun tetap menjaga. Perbedaan jam di udara yang nggak begitu ketara sempat membuat gue bingung harus sholat maghrib atau isya sedangkan langitnya terang terus (LOL), sholat di celah-celah kosong, hingga wudhu di wastafel tanpa mengganggu pengguna toilet lainnya. Kayanya gue harus dedikasikan postingan tersendiri untuk petualangan ini :v


Sebelum gue sampai di Amerika Serikat, gue singgah di Jepang. Selama transit, hal pertama yang gue cek adalah TOILET-nya! Entah kenapa gue penasaran banget sama toilet di Jepang. Berasa freak banget gue motoin toiletnya, nggak sih? Hal lain yang gue suka dari Jepang adalah vending machine-nya ehehe. Menurut gue Jepang ini termasuk negara yang murah sih untuk travelling. Walaupun itu balik lagi ya, tergantung gaya hidup masing-masing. Tips travelling ke luar negeri ala gue akan gue tulis di postingan lain.



Singkat cerita, gue beneran bisa ke Amerika Serikat dengan gratis, tanpa kelaparan, bahagia, dan sehat. Alhamdulillah. Walaupun beban banget untuk bisa bawa harum nama UB dan fakultas di sana :"

Sepulang dari Amerika Serikat, gue nggak mau kehilangan semangat buat terus menebar hal positif. Di bulan Juni gue coba apply untuk yang kedua kalinya, YSEALI, sebuah program pertukaran singkat selama 5 minggu di Amerika Serikat untuk belajar mengenai tema spesifik yang kita pilih. Tahun ini gue coba pindah haluan dan ambil tema Social Entrepreneurship. Di bulan ini juga gue akhirnya diterima magang di Kedutaan Besar Amerika Serikat dan menjalani orientasi singkat sebelum gue mulai magang. Di akhir bulan Juni, gue pun mulai magang di sana. First time banget gue ngurus hidup gue sendiri tanpa orang tua. First time banget buat gue ngerantau (walaupun nggak lama-lama banget). Di bulan ini gue mulai banyak belajar mengenal diri gue sendiri. Di bulan ini juga akhirnya app buatan tim Come meluncur ke Playstore (di download ya teman-teman).

Move to Bulan Juli, bulan lahir gue (sekedar ngingetin, siapa tau kalian lupa, hehe). Gue tiba-tiba dapet notif kalo gue lolos interview YSEALI. Sebenernya nggak mudah buat nyiapin interview sembari magang. Gue nggak bisa fokus. Ditambah lagi, perjalanan Jakarta Selatan-Tangeran pake Trans Jakarta memakan waktu paling nggak 1 jam perjalanan. Belum gue harus nyiapin buat makan malam dan lain-lain. Sekarang gue menyadari bahwa hal itu cuma excuse gue aja. Gue terlalu lemah buat berjuang. Niat gue cuma se-upil sedangkan kemauan gue segede bumi. Nggak imbang. Walaupun begitu, gue tetap (mencoba) confident di interview yang cuma 10 menit. Dan yaahh, rencana Allah emang nggak bisa ditebak. Halangan gue saat itu adaaa aja. Tapi yasudahlah. Mungkin Allah punya rencana.



Di bulan Agustus gue masih magang di tempat yang sama. Banyak hal menyenangkan yang terjadi, banyak punya hal yang mengecewakan. but, this is me. Diri gue sengaja gue bentuk buat tahan hantaman. Nangis itu wajib buat orang ringkih kaya gue, tapi besoknya gue akan bangun dengan "dendam" buat nerusin perjuangan naklukin dunia. Yes. Gue nggak lolos YSEALi Fall 2018. Gue nggak jadi bawa pulang daun lima jari yang jadi favorit gue. Tapi, gue nggak papa, udah biasa. Masih banyak YSEALI-YSEALI lainnya yang menanti di depan. Keep rockin'

 


Oh iya, bonus yang gue dapet di bulan ini adalah tiket gratis nonton Asian Games dari bos gue, hehe. Seru banget! Yahh, walaupun gue nggak ngerti apa-apa tentang baseball, setidaknya gue ngerasain hype di lapangan. Asoy. Kejutan lagi yang gue terima di bulan ini adalah gue bisa ngomong tentang internship and career development di universitas impian gue dulu di acara yang dibuat oleh Career Development Center-nya. Gue bukan speaker yang baik memang. Ilmu gue juga jauuuuh dari kata "banyak". Namun, gue kembali sadar kejutan yang dikasih Yang Maha Kuasa betul-betul nggak disangka. Gue ditolak di universitas tersebut dan kembali kesana sebagai pembicara. Oke, emang bukan event besar. But I really appreciate that (kata gue kepada diri sendiri).


Move on ke September. Perjalanan magang gue pun selesai (setelah gue extend). Sepulangnya dari Jakarta, Pak Brilly minta gue untuk bikin struktur organisasi di Ei Lab dan kita berdua rapat untuk program kerja. Waktu itu gue masih nggak ngeh kalo gue diberi amanah untuk jadi Student Director. Dibantu grup Tumbal yaitu Amel, Chiki, dan Wenning, yang selalu bersedia gue recokin tiap hari, kita bisa bikin tim yang kompak dan lucu (sugar baby haha). Semoga begini terus yaa, ehehe

Huft.
Oke.
Ternyata capek juga nulis panjang gini. Kayanya ini tulisan terpanjang gue seumur hidup.
Lanjooottt biar cepet kelar.

Bulan Oktober ini gue manfaatin untuk bimbingan magang, itung-itung menjadi mahasiswa seutuhnya. Sambil ngisi waktu yang lebih terasa kosong pasca magang dengan jam kerja full, gue jadi volunteer di Nutrinesia Project, yang punya visi memperbaiki kualitas gizi anak-anak di Indonesia. Di project ini gue bantuin pilot project mereka dengan memberi edukasi kepada adek-adek di Sekolah Dasar untuk mengenal sayuran.

Akhirnya di Bulan November gue ujian magang! Proses ini bukan apa-apa sih, cuman gue seneng aja gitu bisa melawan rasa males gue mantengin laporan berlembar-lembar. Di awal magang, gue bikin plan buat nyusun laporan magang pake Bahasa Inggris. Kalau misal gue bisa melaluinya, gue pengen bikin skripsi pake Bahasa Inggris. Ini salah satu goal gue sebagai mahasiswa yang sempat ditolak kampus impian, hingga gue harus lagi-lagi 'balas dendam' dengan menghantam limit gue.

Nah, akhirnya tulisan ini bakalan selesai dengan note di bulan Desember. Di bulan ini nggak terlalu banyak yang gue lakukan, selain nulis skripsi dengan topik yang sama sekali baru buat gue. Tapi gue rasa justru sangat menarik buat gue pelajari. Sempat topik dan judul yang gue ambil bakal kandas karena regulasi pemerintah yang nggak ada buat isu ini. Tapi, beberapa hari lalu banget gue baca berita yang memberitahukan bahwa pemerintah udah ngeluarin regulasi buat isu ini! Sehingga, perjalanan tugas akhir gue bisa dilanjutkan :")

Akhirnya selesai jugaaa.
Naahhh (lagi)

Sekarang PR gue di tahun 2019 tentunya banyak banget. Umur gue mau 22 tahun. Gue harus udah lulus dari kandang ini. Gue harus mikir jalan mana yang mau gue tempuh: kerja? S2? Volunteer? or even jadi entrepreneur aja? Toh, gue punya project yang harus dikembangkan. Ah, tapi pasti orang tua maunya gue kerja dan mandiri secara finansial. Di sisi lain, gue merasa gue harus S2 sebelum someone gives me a ring on my finger and get married. Ah, gue pusing. Kita hentikan saja.

Pertanyaan besar yang kemudian muncul di kepala, "Harus nggak sih kita bikin resolusi? Bikin target?" Temen gue pernah nulis (yang menurut gue ada benarnya), kalau mau menghilangkan kata "GAGAL" dalam hidup, hilangkan kata "TARGET". Lakukan apa yang bisa dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan sebaik-baiknya.

Apa betul bisa begitu?


No comments:

Post a Comment

Baca Juga Ini Ya!