Tentang Hubungan Tanpa Status - Lagi Monolog

Friday, July 3, 2020

Tentang Hubungan Tanpa Status

Sudah tiga tahun lebih gue menjalani apa yang orang-orang sebut dengan “hubungan tanpa status”. Walaupun manusia berubah, waktu mengubah, keadaan diubah, gue masih berjalan ditemenin orang yang sama. Sebenarnya gue agak ragu mau nulis tentang kitacieeelaahh. Bukan karena gue gak pengen berbagi jawaban soal pertanyaan yang sering dilontarkan ke kita tentang: Gimana sih caranya biar awet begitu? Tapi lebih ke karena gue gak mau mendahului keputusan semesta. Kan sedih banget nanti kalau ternyata kita gak bisa bareng sampai check point berikutnya, ya gak?






Kalau mau dibilang awet, rasanya gak juga. Belum. Melihat temen-temen gue yang bareng sejak SMP dan masih tetap bareng walaupun terpisah jarak adalah achievement yang luar biasa. 

Singkat cerita, tahun 2016 akhir gue ketemu sama orang unik ini. Pertemuan kita dibalut dengan hubungan senior dan junior yang kerap kali membahas soal isu-isu bisnis. Gue bertanya beberapa hal yang gak gue ngerti di perkuliahan dan tentu saja dia yang notabene adalah senior tiga tahun lebih tua dari gue menjawab dengan pengetahuannya yang saat itu membuat gue terngaga. 

Nih orang logis banget!

Saking logisnya, waktu itu kita pernah makan bareng tepat sebelum dia berangkat ke Amerika buat kuliah singkat. Sebuah tempat makan terbuka dengan lampu remang-remang, musik lembut, dan angin malam yang semilir, jadi tempat pertama buat kita saling mencari tahu: mau apa selanjutnya? 

Disana dia ngasih hadiah. Bukan bunga, coklat, atau hal-hal lutju yang gue jual di Tangan Ajaib,  melainkan hanya sebuah buku. Buku bersampul merah yang sampai sekarang masih gue simpan dan gue ingat betul isinya. Self Driving karya Rhenald Kasali. Belakangan setelah gue baca buku itu sendirian, ketika dia menghilang dari peredaran karena sedang belajar di Amerika, gue tau bahwa kata hanya adalah penilaian salah yang gue buat saat itu. 

Biasalah. Mungkin kita banyak terpapar novel-novel roman ketika remaja, kemudian mengambil kesimpulan bahwa cowok dan cewek --> bareng-bareng --> ngerasa gak ada kepastikan --> salah satu dari mereka mulai meminta kejelasan atau sekadar bertanya-tanya “Ini mau dibawa kemana, sih??” Tujuan yang paling memungkinkan adalah jadian. 

Gue dulu juga gitu—malu banget, serius.

Yaudahlah yaaa, let me just accept who I was yesterday and move forward. 

Makanya sekarang gue rada gimanaaa gitu kalau baca novel yang pure isinya cinta-cintaan, bucin kebangetan, trus nangis-nangis kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Ini juga yang melatarbelakangi kenapa gue balik lagi ke hobi lama waktu SMP/SMA, menulis cerita. Gue kepengen banget gitu nih anak-anak bocil gak cuman mikirin gimana caranya move on kalau doi pergi sama orang lain, tapi juga bisa move on if the reality hits your butt. 





Kembali ke cerita malam itu, tiga tahun lalu, di bawah lampu temaram food court sederhana dekat rumah, dia menjelaskan konsep cinta yang dia tau. Tentang penggambaran cinta orang tua pada anak, hingga cinta Sang Maha Kuasa pada makhluknya. Pemikiran dia saat itu melekat dalam benak gue, sampai gue verifikasi ke temen-temen deket gue: Bener gak sih kayak gitu? 

Dalam hati gue bilang: nih orang lagi excuse atau beneran logis sih? Bukan. Gue nggak bilang kalau dua sejoli yang menjalin cinta itu nggak logis, bahwa cinta sendiri itu hal yang tidak logis, BUKAN. Bukan gitu. Dia cuma mengambil keputusan melalui pemikiran, tidak melibatkan sesuatu yang kita sebut perasaan. 

Alhasil pada malam itu dia menanyakan sesuatu yang mungkin tengah dinantikan cewek-cewek yang ada di posisi gue. Gue sendiri gak yakin apakah gue menunggu dia tanya itu atau nggak. Gue cuma butuh sesuatu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepala gue. Karena semua orang  seusia gue saat itu menuntut kepastian pada sebuah hubungan, gue jadi ketularan mikir kayak gitu juga. Dulu.  

“Kamu mau jadi pacarku?” tanyanya.

Sedetik selanjutnya dia menjawab pertanyaannya sendiri.

“Enggak kan?” 

“Apa sih gunanya status?” lanjutnya.

Di luar dari hal-hal yang berhubungan dengan rohaniyah soal status tadi, ternyata emang lu tuh gak butuh-butuh banget sama yang namanya status. Status yang gue bahas kali ini adalah status sebelum check point ke jenjang yang lebih serius yaaa. Itu sih beda lagi pembahasannya.

Jadi…

Asal dua-duanya tuh nyambung dan sadar diri...

Status bukanlah hal yang mandatory.

Daaann yap! Setelah tiga tahun lebih gue sebut dia “sahabat”, kita sama-sama berkembang—ini penilaian gue pribadi, walaupun tidak di bawah istilah (status isi sendiri). Gue belajar banyak dari dia, skripsi juga dibantuin mikir—soalnya gue kadang gak logis dan sistematis, menghadapi penolakan-penolakan bareng, membangun proyek sosial bareng, pusing bareng gimana ngurus ratusan order, dll. Dia adalah kakak, teman, dan mentor di saat yang bersamaan. 

Apakah kita pacaran? Enggak. 

Setelah gue flashback dan gue pikir-pikir lagi, 

iya juga, ya? 

Memangnya apa yang bakal berubah ketika status ‘teman’ berubah jadi ‘pacar’? 

Toh, nggak ada yang berubah sebenernya. Lu tetap tidak punya hak yang berlebih terhadap orang itu. Lu tetap nggak bisa asal pegang dan cium-cium just because you guys are in a relationship. Lu harusnya izin dan ketika doi tidak mengizinkan, lu gak bisa maksa. Lu tetap gak bisa asal ngatur semua aspek kehidupannya, larang ini, larang itu, nggak boleh gini, nggak boleh gitu. Lu tetap—harusnya—nggak bisa asal minta dibeliin ini, dibeliin itu. Lu tetap nggak boleh seenaknya minta dia melakukan sesuatu buat lu. 

Kan walaupun lu pacaran sekalipun, isi kepala dua orang tetap tidak bisa dicampur aduk. Ada dua hidup yang tetap harus dijalani masing-masing seorang diri. Ada dua dunia yang beberapa hal di dalamnya nggak bisa semudah itu diubah sekalipun ‘status’nya berubah. Kecuali you are living as him/her, waking up as that person. 

Jadi buat temen-temen yang ketika ngobrol selalu bilang ingin cari pasangan sebagai resolusi tahun ini, lurusin dulu niat lu. 

Mau cari pasangan buat apa?

Untuk kesenangan semata, 
tumbuh bersama, 
or even 
hidup bersama?

Apapun tujuannya, untuk jenjang yang belum serius, status tuh nggak mengubah apa-apa karena memang yang dibutuhin cuman…

Orang yang sama-sama mau.  

Itu dulu.

Mau dalam hal apa nih maksudnya?

Ya terserah, kembali lagi pada tujuan lu nyariin dia. Mau berkembang bareng secara karir atau pengalaman, mau saling belajar, mau bareng-bareng menuju check point berikutnya, mungkin? Bisa macam-macam. 

Poin terakhir yang nggak kalah penting adalah kalau kita mau 'sesuatu' ada di pasangan kita, harusnya kita belajar untuk bisa punya 'sesuatu' lebih dulu. 

Ntar kalau gak ada status, dia pergi bareng orang lain eh trus ninggalin gue gimana? Kalau ditinggalin, gue juga bakal sedih dan susah buat move forward…

Dulu gue juga berpikiran sempit kayak gini. Ditambah dengan excuse: yaudah gak papa kalau gak mau ada status, tapi kan bisa sesekali posting foto bareng, biar gak ada yang nanyain atau genit gitu

Dia memang hampir nggak pernah upload foto bareng gue. Walaupun yaaa temen-temen deket kita tau kalau kita jalan bareng, tetep ada aja orang yang tiba-tiba nanya status dia buat dicomblangin ke temennya yang lain.

Dan karena gue gak habis pikir kenapa dia anti-exposure, pemikiran itu merambah ke masalah insecurity lain kayak contohnya:

Pasti karena gue gak cantik, makanya nggak bisa dibanggain ke orang-orang...

Padahal kan kenyataannya belum tentu demikian. Nah, akhirnya setelah gue mengenal cinta pada diri sendiri, gue jadi paham bahwa menjadi bahagia tuh kadang-kadang nggak membutuhkan orang lain buat mencapai makna ‘kebahagiaan’ yang lu maksud. 

Justru gue akan nanya balik ke elu.

Kenapa sih harus selalu runtuh karena orang lain? Kenapa harus selalu menggantungkan hidup dan bahagia beserta mimpi di dalamnya pada orang lain? 

Nggak selalu dia yang salah kalau pergi ninggalin lu. Logikanya gini:

Kalian lagi jalan bareng, trus dia pergi gitu aja dan lu ngerasa ditinggalin. Berarti lu nggak beranjak dari tempat itu kan, makanya kata ‘ditinggalin’ itu muncul? Coba kalau lu ikutan pergi, nggak ada yang harus menjadi subjek yang meninggalkan atau ditinggalkan.

Lagi. Nggak selalu salah dia yang pergi.

Mungkin kita yang salah karena terlalu mudah menaruh segalanya sampai yang tersisa buat diri sendiri nggak ada.

Nggak peduli dia temen, temen deket, sahabat, atau pacar sekalipun, whatever the status is…
Plis, jangan bergantung sembarangan. 

1 comment:

  1. Sooo truuuu!!

    Aww, semoga selalu menjadi pasangan inspiratif. Meskipun sahabatmu itu 'nyebelin' tapi jujur kalean keren!

    ReplyDelete

Baca Juga Ini Ya!