Filosofi Cicak - Lagi Monolog

Saturday, February 22, 2020

Filosofi Cicak

Akhir-akhir ini Mas Satrio kembali memberikan petuah-petuah hidup ke gue. Setelah dia kepo panjang kali lebar tentang berapa pendapatan gue per bulan sekali dapat klien. Petuahnya kali ini ia sebut sebagai “Filosofi Cicak”. Dan di postingan ini gue akan ceritakan sedikit tentang filosofi ini. Semoga bisa menjadi pegingat rasa syukur bagi semuanya yang membaca.




Sebenarnya gue sama sekali nggak mau menyebut stage gue sekarang sebagai quarter life crisis, karena....ya karena nggak mau saja. Bingung mau milih jalan mana yang betul-betul dipinginin, bingung mana yang betul-betul kata hati mana yang cuman ambisi, bingung apa yang sebenarnya dituju, sampai harus berkali-kali bertanya ke belakang: sebenarnya apa sih tujuannya manusia diturunkan ke bumi? 

Waktu gue berkumpul sama teman-teman lama, gue sudah banyak nggak relate sama jalan hidup mereka. Atau sekadar topik ringan yang mereka omongin, gue nggak ngerti. Bagaimana mereka mendapatkan promosi, bagaimana mereka menghabiskan waktu istirahat dengan coba menu-menu kafe baru di lantai bawah kantor mereka, dan banyak hal. 

Apalagi waktu mereka ngomongin soal gaji. Berkali-kali gue mikir, bisa nggak ya gue yang serabutan gini bisa dapat gaji dua digit kayak mereka? Networking yang bagus dan luas, bisa dapat banyak kesempatan untuk bertumbuh di industri yang dlihatnya tanpa menggunakan kacamata. 

Alhasil gue cuman senyam-senyum, pretend like I’m enjoy the conversation, pura-pura ngerti. Lebih kepada menghormati mereka yang terlihat bahagia membicarakan hidupnya—atau mereka juga sebenarnya tidak benar-benar bahagia membicarakannya. Life must go on, they said.

Gue bukannya tidak pernah menimbang banyak opsi dalam rencana ke depan. S2, kerja, usaha sendiri, atau nikah saja lah. Nggak, yang terakhir itu bercanda. Sering banget gue mikir, apa gue ke Jakarta juga ya? Meniti karir? Jujur saja, gue nggak begitu gencar masukin pendaftaran di perusahaan-perusahaan begitu sih. Jadi sebenarnya maunya apa coba? Apa gue adem ayem saja bertahan di Malang yang mulai panas ini dengan berusaha di kaki sendiri? Mana sih opsi yang strategis buat gue? Banyak banget pertimbangan. Dan gue yakin banyak orang yang juga think thousand times for life. 

Di tengah kekalutan duniawin ini, sebulan ke belakang, Allah kasih gue hadiah banyak banget. Entah apakah ini adalah sinyal-sinyal yang akan ngebantu gue memilih dengan tegas keesokan hari? Kayak postingan-postingan iseng yang gue upload di sebuah platform, tiba-tiba ada beberapa orang yang nanyain soal itu. Perlahan tapi pasti, gue menggiring mereka untuk sampai ke tahap purchasing. Makin kesini, nominalnya makin naik. Sangat cukup untuk gue bisa menabung dan investasi. Walaupun ngomong kayak gini juga rasanya terlalu dini. Karena kan juga belum stabil banget, baru permulaan. Tapi gue sampai bingung dibuatnya. Bagaimana orang-orang itu bisa percaya sama orang kayak gue? Emangnya mereka nggak takut kecewa begitu? Nggak takut gue tipu? Walaupun gue juga nggak punya niatan nipu.

Hobi gue lainnya yaitu menulis juga mulai banyak yang baca. Nggak cuman blog, di sebuah platform menulis tulisan fiksi juga gue mulai dapat feedback, walaupun nggak sebanyak yang lain. Tapi gue sudah sangat dibuat terharu karena tulisan gue ada juga yang mau baca, hiks. 

Saat gue cerita soal keheranan ini, Mas Satrio datang dengan petuah-petuahnya yang....sebenarnya oke, tapi dibungkus dengan konyol—garing sih, kalo boleh jujur. Katanya, inilah yang disebut “Filosofi Cicak”.

“Coba kamu lihat cicak. Dia hidup di plafon-plafon. Apakah di plafon ada bakso? Apakah di plafon ada Domino Pizza? Enggak ada kan? Tapi dia tetap bisa makan, hidup bahagia bersama keluarga. Kenapa bisa begitu?”

“Kenapa?” Gue tanya balik ke dia sambil berdecak.

“Karena sudah rezeki dia dari Allah,” ucapnya.

Iya juga. 

Manusia seringkali lupa kalau mereka punya iman. Kalau sudah beriman, harusnya nggak perlu khawatir dengan yang ada di depan. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi, kan?

Dan sesungguhnya gue sadar bahwa masalah gue adalah bukan pada pertimbangan. Tapi pada tahap memilih. Ternyata gue seorang coward yang takut memilih. Takut kalau dari pilihan itu gue salah pilih. Takut kalau gue kalah start. Baru-baru ini gue nonton film American Factory. Di sana ada kalimat yang bikin gue tertohok: Berdiri diam sama dengan mundur. Dan gue mungkin sedang dalam fase kemunduran. 

Tadi sore, video Gary Vee juga menampar gue. Katanya, nggak ada pilihan yang salah. Yang ada, ini semua cuman tentang hidup. Kita cuman butuh memilih. Once we choose and then things go well, that’s great. But when things go to unexpected, adjust.  

Nah, sekarang izinkan gue berbicara dengan diri gue sendiri, 
“Jadi bagaimana? Masih bingung mau milih jalan yang mana? Ingat, selalu ada jalan pintas dan jalan pulang.”

Buat para pembaca blog ini yang lagi struggle tengkar sama diri sendiri, atau lupa bahwa rezeki sudah ada yang ngatur, atau mungkin lagi ngerasain hal yang sama kayak gue,



Selalu ingat filosofi cicak.

No comments:

Post a Comment

Baca Juga Ini Ya!