Catatan Singkat Tentang Manajemen Emosi - Lagi Monolog

Thursday, March 7, 2019

Catatan Singkat Tentang Manajemen Emosi



Emosi, dalam konteks marah adalah hal yang paling bisa gue lakuin. Pertama, mungkin karena gue pernah jadi anggota Paskibra. Menjadi partner Komisi Disiplin yang bertugas sebagai center ketika pressing. Membuat gue mengenal dekat ‘marah-marah’ itu seperti apa. Kedua, mungkin karena alasan lingkungan keluarga. Ayah gue orang militer. Terbiasa disiplin dan tegas. Kalo dimarahin ayah, gue cuma bisa kicep. Tapi bukan berarti dia otoriter. Ayah selalu kasih space untuk gue membela diri. Open dialogue. Sebaliknya, fyi Mama lebih sabar dan kalem. Pandai menahan.

Mungkin karakter gue ada di tengah-tengah. Antara ayah dan mama. Kadang hati gue sakit denger omongan orang tentang gue. Apalagi yang nggak bener, yang menyinggung prinsip, yang membercandakan sesuatu yang mengandung value buat gue, dan yang sok tau. Tapi gue bisa memaklumi. Mungkin begitu cara orang-orang mengakrabkan diri. Sayangnya, nggak semuanya bisa gue tahan. Ada beberapa hal yang mudah menyulut emosi dan gue memilih untuk membuang emosi itu kembali supaya nggak jadi endapan di hati gue. Males manajemennya. Ribet. Jadi gue buang rasa-rasa mengganggu itu dengan 1) marah atau 2) nangis.

Dulu gue suka marah-marah. Lebih ekspresif lah dibanding sekarang. Kalo ngomong nyablak dan apa adanya. Ternyata itu bisa melukai orang lain. Gue baru sadar banget setelah ada orang-orang yang ngingetin gue bahwa kita juga hidup berdampingan dengan orang lain. Terima kasih kepada siapapun itu. So, I realized that my words cut deeper than a knife. Kayak lagunya Shawn Mendes. Not only my words. Your words too, guys! Untuk sekarang, gue nggak ngerti apa cara gue dalam mengatur rasa marah sudah tepat atau belum. Namun sepertinya udah lebih baik. Nggak jor-joran. Abis ngerasa kecewa langsung mengekspresikannya. Gue diemin dulu bentar. Nanti kalo udah waktunya keluar, gue keluarin.

Perkara nangis, gue juga paling jago. Temen-temen bilang gue cengeng. Kalo gue boleh membela diri, gue akan bilang itu adalah upaya untuk nggak menimbun elemen negatif yang mungkin bisa jadi alasan gue buat depresi. Habis nangis syaratnya satu. Tidur. Ajaibnya, gue pasti bangun dengan perasaan lebih baik. Bisa berpikir jernih dan rasional. Emosi negatifnya ikut luntur dengan air mata. Lalu gue pasti akan kesulitan untuk menceritakan kembali alasan gue nangis. Karena semua terasa menguap begitu saja.

Ada yang bilang nangis cuma buat orang yang baperan. Padahal, menurut gue buat apa Tuhan menciptakan manusia punya perasaan. Buat apa ada rasa kecewa, marah, sedih, dan teman-temannya kalau hal itu nggak seharusnya kita rasain. Ibaratnya, emosi-emosi ini yang membedakan kita, manusia dengan mesin.

Gue juga nggak setuju dengan kutipan “Boys don’t cry”. Nggak semua cowok yang nangis itu pantas disebut banci. Mereka juga punya hak buat meluapkan emosinya. Seolah dunia ini kita setting dengan batas-batas hal yang boleh dan nggak boleh dilakukan oleh gender tertentu. Dalam konteks yang positif, rasanya setiap manusia yang diberi akal dan perasaan berhak menggunakannya sebagaimana porsinya. Asal ada alasan. Lalu disampaikan dengan cara yang elegan. Marah nggak selalu bisa dibilang kasar dan emosian, bisa jadi memang ada alasan di balik itu. Pun menangis. Nggak melulu dikaitkan dengan kata ‘lemah’ karena pada kasus gue, itu adalah kegiatan gue untuk menguatkan diri dan berpikir lebih rasional. Setiap orang punya caranya sendiri untuk memanajemen emosi. Segera cari tau, kawan.

1 comment:

Baca Juga Ini Ya!